Biarkan saja semuanya berjalan sebagaimana angin berhembus, karena ketika saatnya tiba, semesta akan menyelesaikannya.

Saat senja telah larut, puing-puing kenangan kembali merasuk. Sudah puluhan minggu dan ratusan hari terlewati. Tapi tetap saja bayang-bayang masa lalu menghampiri. Ada sejenak rindu yang merasuk, kala angin mendesir melewati helaian rambut. Ingin kembali tapi tak pelak ingin mengulangi. Aku masih hidup dalam bayang-bayangnya sampai tulisan ini dibuat.

Dia seorang mantan kekasih yang sebentar saja bisa membuat dada berdegup kencang sekaligus merobek hati utuh-utuh. Hati yang sebelumnya telah ditata baik-baik, harus tercerai berai karena ulah sebuah pesan singkat darinya, pesan yang hanya berisikan sebaris kata, “Hai, apa kabar?”

Beberapa kali ingin mencukupkan, namun entah hati yang belum rela atau bayang-bayangnya tak bisa melepaskan diri, semua sia-sia. Hal tersulit memang selalu memulai. Mulai untuk menata cinta, mulai melupakan dia. Dan mulai menemukan potongan hati yang baru. Belum pernah aku menemukan kenyamanan dalam tingkat setinggi ini. Bahkan dia menjadi prioritasku—selalu. Aku tahu roda itu berputar, maksudku aku tidak akan selalu dalam keadaan ini. Banyak yang bilang aku pasti akan menemukan rumah baru yang lebih nyaman. Rumah yang akan mencintaiku sepenuh hati.

Pun akhirnya aku menemukan sebuah jalan keluar yang luar biasa indah. Rasa sedih, dan kecewa tidak lagi menyakitiku—entah karena terbiasa atau aku mencandunya. Tidak lagi ia berhasil membuatku terpuruk, pun saat ia memasang foto bersama seorang gadis. Tidak lagi aku menangisinya.

Kubiarkan kepedulianku tetap untuknya. Seperti biasa, aku akan tetap mengusahakan untuk membantunya selagi aku bisa. Menyisakan beberapa jam untuk membalas satu dua pesan singkat darinya. Apa aku bodoh? Entahlah aku hanya membiarkan semesta yang menyelesaikannya. Saat sebuah pesan datang darinya, aku akan membalasnya dengan tenang. Tidak lagi dada ini berdegup kecang layaknya bom atom yang siap meledak, untuk kemudian menyesali diri.

Mungkin memang sudah saatnya sekarang untuk pergi. Maka akhirnya waktu yang menangani kesedihanku. Berdamailah dengan diri sendiri, dan semesta akan menyelesaikannya. Sulit memang meninggalkan rumah lama yang sejuk dan nyaman. Tapi yang berlalu biarkan saja.

Maka memeluk masa lalu menjadi kebahagiaan saat damai menyertai sebuah hati. Yakinlah akan selalu ada potongan hati yang baru untuk semua orang.

Maka sekarang tersenyum dan bisikkan, ‘Semesta akan menyelesaikannya.’