“Being single used to mean that nobody wanted you. Now it means you’re pretty sexy and you’re taking your time deciding how you want your life to be and who you want to spend it with.” — Carrie Bradshaw
Sebelum sampai pada titik kehidupan saya sekarang--ketika saya bisa melakukan sesuatu yang saya cintai dan menjalani hidup bersama orang yang mencintai saya, saya pernah melajang selama kurang-lebih dua tahun.
“Kapan anak Mama yang ini menikah?” sering Ibu menanyakan pertanyaan ini kepada saya, dengan nada bergurau. Tetapi seperti kita semua tahu, selalu ada kebenaran di balik setiap gurauan, walaupun hanya sedikit. Menurut Ibu, menikah akan membuat saya bahagia. Konsep kebahagiaan, menurut Ibu, adalah saya yang menikah dan berkeluarga. Bukan melajang. Tipikal orang tua Asia jaman dulu dan jaman sekarang.
Tetapi saya tidak mau menjadikan pernikahan sebagai semacam jalan keluar ataupun tujuan akhir hidup saya.
Saya ingin menikah karena saya ingin menjalani hidup bersama dengan pendamping saya nantinya: berbagi saat terbaik dan saat terburuk, sampai akhir hayat. Saya juga tidak mau memulai hubungan dengan tujuan untuk menikah, atau memaksakan diri bahwa suatu hubungan harus berakhir di jenjang pernikahan. Yang saya mau, rasa ingin menikah itu muncul dengan sendirinya, ketika saya berjumpa dengan orang yang tepat, di saat yang tepat; tanpa harus dipaksakan.
Dua tahun melajang, saya belajar banyak hal. Saya belajar menikmati masa lajang sebagai suatu berkat, dan bukan kutukan. Status melajang saya gunakan untuk mempelajari banyak hal untuk membuat diri saya menjadi versi yang lebih baik lagi. Di akhir masa lajang, kira-kira beberapa bulan lalu, saya melihat lagi ke belakang. Dan saya bisa menyimpulkan bahwa melajang adalah seperti traveling tanpa pendamping, which is one heck of an adventure.
Di antara hari-hari khusus ketika saya benci bangun tidur di ranjang yang kosong, ada lebih banyak hari-hari ketika saya merasa ‘penuh’ dan bahagia saat saya menjalani masa lajang dulu. Tanpa menghabiskan masa lajang selama dua tahun, saya rasa saya tidak akan sampai di tempat saya menjejak saat ini. Tempat yang membuat saya merasa sangat ‘utuh’ dan bahagia.
Tentu saja, banyak hal yang saya petik selama saya menghabiskan waktu sendiri, di antaranya:
1. Saya fokus pada diri saya sendiri, saya menjadi pribadi yang ‘utuh’.
Ada kutipan dari seorang pelukis ternama, Agnes Martin, yang sangat menyentuh hati saya: “There are so many people who don’t know what they want. And I think that, in this world, that’s the only thing you have to know — exactly what you want. Doing what you were born to do… That’s the way to be happy.”
Ada banyak orang yang tak tahu apa yang sungguh-sungguh mereka inginkan. Dan di dunia ini, sesugguhnya, justru hal yang satu inilah yang perlu kita ketahui— apa yang sungguh-sungguh kita inginkan.
Hari-hari yang saya lewati sendiri membuat saya memiliki lebih banyak waktu untuk bercermin. Untuk mengenal siapa diri saya yang sebenarnya, menyingkap apa yang sebenarnya saya inginkan dari hidup ini, dan untuk apa saya terlahir. Di akhir masa lajang, hidup saya lebih mantap, bergairah, dan terarah. Semuanya menjadi sangat jelas bagi saya, dan semua yang saya lakukan, saya lakukan dengan tujuan yang jelas.
2. Saya berdamai dengan masa lalu saya
Hanya karena saya sudah berada di tempat yang nyaman sekarang, bukan berarti saya tidak melalui masa-masa sulit sebelum ini. Pada saat melajang, saya berhasil membuka hati lebar-lebar akan masa lalu saya yang pahit, dan belajar menerima dengan ikhlas segala yang telah terjadi. Saya belajar dari orang tua dan teman-teman terdekat saya, dan belajar dari kekurangan-kekurangan diri saya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi pasangan saya yang sekarang ini.
3. Saya belajar menjadi diri sendiri, seorang pribadi yang unik. Saya belajar mencintai diri sendiri, apa adanya
Saya menyadari bahwa at the end of the day, saya adalah saya. Tidak ada gunanya berusaha untuk ‘mendongkrak’ diri menjadi yang tercantik, terbaik, paling sukses dan paling berbakat untuk pasangan saya. Tujuan saya sekarang bukan menjadi sempurna, melainkan menjadi diri saya sendiri, with all the curves and edges. Dan syukurlah, pada saat yang tepat, ada seseorang yang mencintai saya dengan segala ketidaksempurnaan yang saya miliki.
4. Saya semakin yakin akan panggilan hidup saya, the purpose of my life, dan hidup terasa lebih berarti
Bertahun-tahun saya bergelut di bidang pekerjaan yang tidak saya minati. Saya merasa hilang arah, tidak bergairah, dan lama-kelamaan seperti tidak menjadi diri saya yang sebenarnya. Tetapi pada saat melajang, saya memiliki lebih banyak waktu untuk menjadi versi diri saya sendiri, yang lebih baik. Dengan sendirinya, panggilan hidup saya sebagai seorang penulis menjadi semakin jelas dan mantap. Pintu demi pintu terbuka lebar untuk saya menulis dan juga melukis, hobi yang belakangan saya geluti dengan lebih serius. Doing something I am born to do, what I am called to do, membuat saya merasa sangat nyaman dengan diri sendiri. Rasanya tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sesuatu atau seseorang yang bukan saya, and it feels so liberating.
5. Saya semakin nyaman bersendiri, menjadi teman yang baik untuk diri saya sendiri, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain untuk meraih kebahagiaan
Pada saat melajang selama dua tahun, tak dapat dipungkiri, terkadang saya merasa kesepian. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya belajar menjadi lebih mandiri, tanpa bergantung kepada siapapun. Saya menjadi teman terbaik untuk diri saya sendiri, in good times and bad times.
Masa lajang perlu dirayakan dengan intensitas yang sama dengan menjalin hubungan atau menyambut pernikahan. Perjalanannya panjang dan terkadang, menyakitkan. Tapi jika kita bisa melalui semua ujian itu, kita akan bertumbuh menjadi versi yang lebih indah dari diri kita sendiri. Don’t settle for anything less in life. Pada saat yang tepat, ada seseorang yang akan mencintaimu apa adanya. Temukanlah seseorang yang akan mencintaimu, bukan karena kamu sempurna. Temukanlah seseorang yang akan tetap berada di sisimu, degan segala ketidaksempurnaanmu. Hingga saat itu tiba, nikmatilah keindahan bersendiri, karena di dalamnya, kamu akan menemukan kilasan dari keindahan masa depanmu yang masih akan datang. Dan kilasan itu luar biasa indah.
You are a miracle. Start living that way.