Pernahkah kamu mempertanyakan kehidupan Cinderella, Snow White, Belle, dan putri-putri lainnya setelah adegan pernikahan?

Apakah mereka memiliki anak? Bagaimana mereka mengatur keuangan kerajaan terpisah dengan keuangan rumah tangga? Mungkin terdengar bodoh, ya? Tapi itulah. Buat saya, kehidupan tidak berakhir setelah pernikahan dan kalimat happily ever after. Buat saya kehidupan dimulai setelah pernikahan dan kehidupan setelah pernikahan terasa begitu menyeramkan.

Saya datang dari keluarga broken home.

Kedua orang tua saya berpisah saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kemudian saya diasuh oleh kakek nenek selama bertahun-tahun. Saat menginjak bangku sekolah menengah, saya kembali diasuh oleh Ibu. Ibu menikah kembali dengan seorang pegawai BUMN dan mengontrak sebuah rumah yang bagus. Saya, adik, Ibu, dan Ayah tiri tinggal di rumah tersebut.

Ayah tiri saya jarang ada di rumah karena alasan pekerjaan. Beberapa tahun kemudian Ayah tiri dan Ibu berpisah.

Saya baru tahu saat itu: bahwa Ibu adalah istri siri.

Ayah kandung saya sendiri menikah dengan seorang guru. Ibu tiri saya ini tipe perempuan yang menganggap suami harus membayar segala keperluan rumah tangga plus keperluan pribadi sang istri. Ayah sering mengeluh kepada saya mengenai kehidupan rumah tangga mereka. Sempat keluar pernyataan bahwa Ayah menyesal telah menikahi ibu tiri saya.

Pelajaran dari kedua orang tua saya mewariskan banyak pikiran buruk tentang pernikahan. Ayah saya bukan lagi anak kemarin sore perihal urusan pernikahan. Nyatanya ayah tetap merasa menyesal dengan pernikahan keduanya. Ibu saya pun bukan lagi anak kemarin sore, tapi ternyata Ibu tetap memilih menjadi istri siri, dan bahkan pernikahan sirinya hancur. Saya tidak ingin jatuh di lubang yang sama, bahkan saya tidak ingin jatuh sama sekali untuk hal yang satu ini.

Dengan pengalaman saya ini, bisa dikatakan saya bimbang--bahkan takut untuk menikah.

Hal ini berbeda sekali dengan tren menikah muda di kalangan muda-mudi seumuran saya yang berusia 20 hingga 26 tahun. Saya memiliki banyak teman yang sering sekali membahas pernikahan dan ngebet menikah. Mereka ini sering menggambarkan pernikahan sebagai gerbang utama menuju kebahagiaan, bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa diraih setelah menikah.

Seorang teman berkata bahwa dia ingin menikah agar dia bisa membagi masalahnya berdua dengan suami.

Saya katakan, bahwa setelah menikah, permasalahan bukan terbagi--melainkan bertambah; karena masalah suami akan menjadi masalahnya juga. Saya ingin sekali berteriak kepada mereka, menceritakan kepada mereka catatan hitam pernikahan yang mungkin akan mereka hadapi. Catatan hitam ini bukan hanya datang dari kedua orang tua saya, tapi juga dari teman-teman saya yang telah menikah dan kemudian menceritakan masalah rumah tangga mereka kepada saya. Sebut saja masalah kecil seperti cara mencuci piring hingga cara merawat anak.

Berbagai permasalahan pernikahan yang saya dengar ini kemudian menambah berat pertimbangan saya akan pernikahan. Bila bagi mereka pernikahan adalah impian, bagi saya pernikahan adalah mimpi buruk. Mungkin saya mengalami trauma pernikahan, mungkin juga saya ketakutan.

Sampai hari ini saya masih ragu apakah saya akan menikah atau tidak.

Keraguan ini saya bagikan kepada beberapa teman. Beberapa dari mereka menghakimi bahwa saya terlalu kebaratbaratan atau berpikiran terlalu liberal (sepertinya mereka kurang mengerti makna liberal yang sesungguhnya). Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menjalani saja kehidupan saya yang sekarang, apa adanya.

Pernikahan masih menjadi mimpi buruk bagi saya, tetapi saya tahu seburuk-buruknya mimpi akan berakhir ketika kita terbangun.

Saya hanya masih belum memutuskan apakah akan bangun, atau terus melanjutkan mimpi.