Saya berbahagia saat melihat kamu berbahagia. Bahkan jika kamu berbahagia bukan dengan saya.

Mungkin kalimat di atas selalu kita anggap sebagai kalimat penghibur diri semata. Apa iya, kita mampu berbahagia setulusnya ketika melihat orang yang kita sayangi justru berbahagia dengan orang lain?

Itulah yang pertama kali melintas di benak saya, ketika mendengar orang-orang mengatakan kalimat pelipur lara ini. Hingga tiba giliran saya yang mengalami momen tersebut. Momen ketika saya belajar dewasa dengan mencoba memahami sebuah perasaan yang berbeda.

Pertemuan saya dengannya memang tidak terjadi dalam kondisi yang baik. Saya sudah tahu bahwa saya akan terluka juga nantinya saat saya memutuskan menjatuhkan hati saya kepadanya. Namun, saat itu saya mengabaikannya. Bukankah yang terpenting dalam hidup ini adalah tidak melewatkan momen-momen yang bisa dikenang lagi suatu saat nanti? Bukankah semua momen yang bisa dikenang selalu datang satu paket dengan momen-momen yang kemungkinan akan disesali? Apapun itu, getaran di hati selalu bisa mengalahkan logika dan nalar.

Kami hanya bertahan satu bulan sebelum pernikahannya.

Kami berpisah dengan momen bittersweet yang tak akan saya lupakan. Yang selalu saya kenang dengan kebahagiaan; tanpa luka hati dan air mata. Ya, di hadapannya saya mengabaikan luka hati saya. Jika ditanya seberapa dalam ia melukai saya, saya akan menjawabnya dengan bagaimana dirinya sudah membahagiakan saya, lebih dari cukup.

Awalnya, saya pikir ini tak akan mudah. Bagaimana mungkin saya dapat melepaskan seseorang yang mampu membuat saya membuka hati kembali setelah sekian lama? Seseorang yang selalu bisa membuat saya membuncah dengan kasih-sayang, tanpa pernah bisa memikirkan alasan untuk menghabiskan hidup saya bersama orang lain selain dirinya?

Naif, memang, ketika untuk pertama kalinya saya mengatakan kalimat mutiara itu: bahwa saya berbahagia melihatnya pada hari pernikahannya.

Sementara, saya tahu proses yang ia jalani untuk sampai ke pernikahan itu. Saya tahu perasaan-perasaan terdalamnya yang tak pernah ia utarakan pada siapapun. Hanya dengan melihat sorot matanya, saya tahu betapa ia juga terluka.

Di kemudian hari, saya memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahannya. Bukan karena saya sebegitu terluka, tetapi lebih karena saya tak mau melihat raut bersalah dan kesedihan di wajahnya ketika saya berjabat tangan dengannya di pelaminan. Saya tak mau ia teringat akan perpisahan kami alih-alih merasakan kebahagiaan di hari besarnya.

Kepada orang yang benar-benar saya sayangi: rasa telah menempatkanmu pada ruang yang berbeda.

Saya tak tahu bagaimana menjelaskannya, namun saya kini tahu, saya bahagia jika mengetahui bahwa ia bahagia, dengan siapapun yang mendampinginya. Tak ada rasa sedih atau rasa sakit yang membuat saya mengernyit ketika saya melihat fotonya, di hari pernikahannya, melintas di layar media sosial: ia sedang berbahagia.

Seharusnya saya sedih. Seharusnya saya menangis. Seharusnya saya marah. Tetapi saya justru merasakan senyum mengembang di wajah. Ada perasaan yang menyelusup halus ke dalam kalbu. Lalu saya mengerti arti kata-kata yang tak saya mengerti sebelumnya. Bahwa mungkin adanya kita bahagia saat melihat orang yang kita sayangi bahagia--walau mungkin, ia berbahagia bukan dengan kita.

Ia mungkin sudah diutus untuk membuka hati saya dan menciptakan retakan di sana, secukupnya saja, agar Cahaya dapat masuk ke dalamnya. Dan untuk itu, saya, selamanya, akan selalu berterima kasih.