I know this too well. Saya pernah berada di dalam hubungan yang berakhir karena pengkhianatan. Dari pengkhianatan terjadi hingga memutuskan untuk berpisah adalah battle tersendiri yang patut ditulis dalam satu artikel lagi. Sekarang saya ingin membahas tentang bagaimana bisa percaya kembali setelah pengkhianatan.
Butuh waktu untuk sembuh dari sebuah pengkhianatan; terutama jika pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang sungguh-sungguh kita cintai: pasangan kita sendiri.
Menurut pengalaman saya, yang terlama, butuh waktu satu tahun untuk saya bisa melanjutkan hidup dan menekan kembali tombol 'Play' dalam hidup saya. Bayangkan banyaknya kesempatan yang terlewat, hanya karena saya melumpuhkan diri dan tidak aktif ikut serta dalam hidup.
Tetapi saya belajar dari pengalaman. Sekarang, saya bisa kembali berfungsi 'normal' nyaris tanpa jeda bahkan setelah mengalami pengkhianatan dari orang-orang yang disayangi. Tak ada kesedihan yang berlarut. Yang ada hanya rasa penerimaan pada situasi, dan cinta yang menyembuhkan diri saya sendiri.
Hal pertama yang ingin saya tekankan adalah, kita tidak harus percaya kembali kepada pasangan--atau siapapun yang pernah mengkhianati kita. Tapi kita perlu tetap percaya pada hidup. We need to trust life again.
MENERIMA. Terimalah, bahwa pengkhianatan bukan hal baru di dunia ini, dan kita bukan satu-satunya orang yang mengalaminya. Cerita pengkhianatan sudah selalu ada sejak ribuan tahun lalu dan hidup terus berjalan. Jika kali ini pengkhianatan itu terjadi pada kita, ini bukan hal yang luar biasa. You shouldn't be surprised. Sulit bagi kita untuk move on jika kita tidak menerima bahwa kejadian ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk kita.
Cobalah untuk meditasi duduk diam di pagi hari, mengambil napas, menahannya selama 6 detik, dan hembuskan sambil berkata pada diri, "I accept," atau "Saya menerima." Lanjutkan dan ulangi sampai kita merasakan sensasi hangat menjalar di hati. Bahwa kita telah menerima kondisi kita sekarang, dan bagaimanapun keadaannya inilah yang terjadi. Saya menerima.
EMPATI. Semua orang pada dasarnya baik. Biasanya, mereka punya alasan yang tepat menurut dirinya sendiri saat memutuskan sesuatu. Dengan pemikiran ini, sekarang mari kita lihat situasi ini dari sudut pandang pasangan kita. Apa yang kira-kira ada di benaknya saat ia berkhianat? Mungkinkah ia merasa kesepian dan membutuhkan perhatian yang tak kita sadari? Mungkinkah ia terjebak dalam lingkaran perasaannya sendiri? Mungkinkah ia memerlukan validasi dari luar agar bisa lebih percaya diri?
Kita pun pasti pernah berbuat salah atau mengambil jalan yang kita sesali di kemudian hari--dan kita punya alasan sendiri yang menurut kita cukup kuat saat kita melakukan kesalahan itu.Lihat baik-baik situasi ini dari semua sisi menurut sudut pandang pasangan kita. Kuatkan hati untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Lakukan ini sampai hati kita tersentuh dan yang bisa kita rasakan hanyalah cinta kasih yang luar biasa kepadanya.
REFLECT AND LEARN. Saya selalu membiasakan untuk melakukan refleksi ke dalam diri. Apa kira-kira yang perlu saya pelajari dari kejadian ini? Mengapa saya mengalami pengkhianatan ini? Apakah saya harus belajar untuk lebih mengerti pasangan? Apakah saya harus memilih pasangan yang lebih baik? Dari perenungan ini, saya menyadari seutuhnya bahwa saya adalah bagian dari pengalaman ini. Dan pengalaman ini terjadi atas ijin-Nya, agar saya berpikir dan belajar.
RASAKAN DAN EKSPRESIKAN. Rasakan semua kesakitan kita seutuhnya, seperlunya. Jika perlu menangis, menangislah. Jika perlu mengungkapkan perasaan kepada teman terdekat, hubungilah mereka. Luapkan juga perasaan kita dalam bentuk tulisan atau karya seni--apapun yang membuat kita bisa menyalurkan sesak di dalam dada. Sah sekali untuk cashing out of your heartbreak dan menjadikan patah hati sebagai sumber produktivitas. Tentu kita masih ingat dengan lagu 'Someone Like You' yang ditulis Adelle setelah patah hati. Pengaruhnya di seluruh dunia masih terasa hingga bertahun-tahun mendatang. Sedahsyat itu kekuatan perasaan kita, jika kita mengekspresikannya lewat cara-cara yang tidak merusak diri kita sendiri.
LET GO. Setelah merasakan kesedihan kita, rasakan bagaimana kemudian kesedihan ini meninggalkan kita perlahan-lahan. Bayangkan kita sedang mengantar kesedihan kita sampai ke pintu depan. Cium pipinya kiri-kanan dengan senyum yang ikhlas. Biarkan dia pergi menempuh perjalanan barunya. Kita tidak membutuhkannya lagi.
Saat saya kehilangan cinta dalam hidup saya beberapa tahun yang lalu, saya terbangun pada suatu hari, dan kesedihan itu tidak ada lagi dalam hati saya. Saya panik berlari mengelilingi ruang di hati saya untuk mencarinya. Saat saya melihat sekelebat kesedihan, saya coba menahannya pergi sekuat tenaga. "Saya masih membutuhkanmu!" Tapi kesedihan melepaskan diri dari cengkeraman saya dan pergi menjauh. Saya tak mengejar. Tanpanya, saya terlahir kembali.
FOKUS UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG KITA INGINKAN. Putuskan apa yang kita ingin ciptakan dalam hidup. Ingin hidup penuh cinta? Mencintailah terlebih dahulu tanpa syarat. Cintailah dirimu sendiri. Setiap hari, lakukan hal-hal yang membuatmu paling bersemangat dan bahagia, tak peduli sekecil apapun itu. Mandi dengan sabun yang wangi. Berdansa sendirian di dalam kamar di pagi hari. Tersenyum pada bayangan kita di cermin. Lakukan dengan hati terbuka, dan fokuslah dalam melakukannya. Tulis daftar hal-hal yang ingin kita hadirkan dan rasakan dalam kehidupan kita. Setiap hari, ikuti dan lakukan kegiatan dalam daftar tersebut dan tuliskan pengalamannya dalam jurnal harian kita.
CHANGE YOUR ACTIONS. Setelah kita belajar dari pengalaman ini, saatnya kita mengambil keputusan yang berbeda di lain waktu. Experience will come to you over and over again until you change your actions. Kita akan mengalami hal yang sama lagi, dan lagi, dan lagi, hingga kita mengubah tindakan atau reaksi kita akan pengalaman tersebut.Jika kita tidak mengambil tindakan yang berbeda, kita juga akan bertemu pasangan yang persis sama kelakuannya dengan pasangan kita sebelumnya. Capek juga, kan?
Mulailah dengan melakukan langkah-langkah kecil dalam mengambil keputusan yang berbeda. Jika pengkhianatan biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan ciri-ciri perbuatan atau perkataan tertentu, maka beranilah untuk bilang 'tidak' saat orang dengan ciri-ciri ini datang di hidup kita. Jika pengkhianatan terjadi karena jarak dan komunikasi yang kurang, cobalah untuk memilih orang-orang yang tinggal dekat dengan kita dan komunikasikan nilai-nilai hidup kita padanya. Percaya pada insting, ini akan menyelamatkan hidup kita.
Menggunakan istilah Elizabeth Gilbert, kunci untuk bisa melanjutkan hidup setelah pengkhianatan adalah stubborn gladness. Keyakinan penuh bahwa ada pengalaman yang lebih menyenangkan hati setelah ini. Kita berhak bahagia, tersenyum lebar, dan tertawa lepas saat berpetualang bersama pasangan kita; saling menghormati dan mencintai; serta tumbuh dewasa bersama--dan bukannya menderita menjajaki hidup. Dari 7 milyar manusia di dunia ini, paling tidak 1 milyar diantaranya adalah potensi pasangan hidup kita yang baru.
Jadi, apa lagi yang kita tunggu?
Don't hold back, hold FORWARD.