Pernahkah kamu bertanya-tanya mengenai mengapa kamu sepertinya selalu saja mengulangi pola yang sama ketika menjalin sebuah hubungan? Misalnya, terus menarik pasangan yang tidak siap berkomitmen atau justru selalu menarik pasangan yang sangat posesif?
Knowing How You Love. E-book Gratis dari Kamantara.
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa sepertinya kamu selalu tertarik pada sosok yang ‘tidak ideal’? Misalnya, kamu tertarik pada sosok lelaki yang kasar dan gemar melakukan kekerasan, atau pada perempuan yang suka mempermainkan perasaanmu hanya untuk bersenang-senang?
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kamu—menomorduakan logikamu—memutuskan untuk bertahan dan menjalani hubungan yang toxic dan tidak sehat? Misalnya, selalu putus-sambung dan bertengkar hebat dengan pasangan, atau harus berada dalam posisi sebagai orang ketiga?
Atau, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kamu sepertinya tidak juga bertemu dengan sosok spesial itu—the one yang selalu kamu tunggu-tunggu?
Jika jawabannya adalah ya, maka buku ini mungkin bisa membantumu menemukan jawabannya.
"Another wonderful work from my dear friend! Dan kali ini Hanny membawa pembacanya untuk berinteraksi lebih dalam dengan kata-katanya, dan dengan diri mereka sendiri, mencoba menyelami hal-hal baru yang mungkin belum pernah mereka sadari sebelumnya. Love it!" -NENA Brodjonegoro, dosen, entrepreneur, ibu muda.
Teknik Menulis Gegas
Saya pertama kali berkenalan dengan teknik menulis gegas dari buku WildMind karya Natalie Goldberg. Sebagai seorang penulis, Natalie menggunakan metode menulis gegas atau free writing, untuk mengatasi writer’s block atau kebuntuan ide. Kebuntuan ide biasanya terjadi ketika seorang penulis terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menganalisis, atau terlalu banyak mengoreksi diri sendiri. Teknik menulis gegas membantu para penulis untuk menulis saja: tanpa terlalu banyak berpikir, menganalisis, maupun mengoreksi diri sendiri.
Sejak saat itu, saya banyak berlatih menulis di jurnal harian saya dengan menggunakan metode menulis gegas. Bagaimana melakukan teknik ini? Pada dasarnya, yang perlu kita lakukan hanyalah mengatur stopwatch selama 5 menit. Kemudian, menulislah—tulis apa saja yang berkecamuk dalam pikiran dan hati kita ke atas kertas, secepat-cepatnya dalam waktu 5 menit itu. Jangan mengangkat pena dari atas kertas, jangan berhenti menulis, jangan berpikir. Biarkan saja semua yang ada dalam hati dan pikiran kita untuk mengalir keluar tanpa revisi, tanpa ditahan-tahan, tanpa dianalisis.
Tentu, yang kemudian keluar bisa jadi coret-coretan yang nampak seperti ‘tak berarti’, misalnya:
Aduh, saya nggak tahu harus menulis apa. Ini aneh banget, kenapa 5 menit terasa lama sekali, ya? Sebenarnya saya lapar. Hidung saya gatal. Lalu saya masih tidak tahu harus menulis apa. Ada semut di atas meja. Kenapa ada semut di atas meja?
Teknik menulis gegas tidak menghakimi. Ia tidak hadir untuk membuat kita menulis hal yang ‘bagus-bagus’. Lewat menulis gegas, saya punya kesempatan untuk mengenali pikiran saya. Perasaan saya. Ketakutan saya. Saya hanya membiarkan semua itu mengalir di atas kertas, senatural, sewajar, sejujur, dan secepat mungkin. Dengan menuliskannya, saya bisa membaca pergulatan pikiran da perasaan saya—yang biasanya mungkin hanya saya pendam atau kubur dalam-dalam.
Menulis gegas membantu saya menangkap pikiran-pikiran yang berseliweran dalam benak saya, dan membantu saya untuk memahaminya. Semua hal yang tadinya nampak abstrak itu kini mewujud nyata dalam barisan kata-kata yang saya tuliskan di atas kertas.
Ketika beberapa tahun kemudian saya mulai berkenalan dengan teknik meditasi dan penemuan diri, saya pun mulai menggabungkan perasaan bebas dan terhubung yang saya dapatkan lewat menulis gegas dengan perjalanan saya untuk lebih memahami dan mengenali diri sendiri. Terutama—mengenai bagaimana saya memahami cinta dan hubungan romantis.
Dari penggabungan teknik-teknik inilah, saya kemudian mengetahui beberapa hal, misalnya:
- Tahukah kamu bahwa rumah dan keluarga merupakan perkenalan awalmu dengan cinta?
- Tahukah kamu bahwa hubungan antara kedua orang tuamu dapat membentuk pemahamanmu akan cinta dan hubungan yang kamu anggap ‘ideal’?
- Tahukah kamu bahwa ketika kamu menginginkan cinta, kamu mungkin sesungguhnya menginginkan hal-hal lain seperti rasa aman, rasa nyaman, popularitas, pengakuan, dan lain sebagainya?
- Tahukah kamu bahwa kamu mungkin memiliki ketakutan-ketakutanmu sendiri tentang cinta—yang kamu sendiri bahkan tak bisa mengingatnya; atau tak tahu dari mana ketakutan ini muncul?
- Tahukah kamu bahwa kamu sesungguhnya memilih pasangan-pasanganmu—atau orang-orang yang kamu ‘anggap’ menarik karena alasan-alasan tertentu yang dipengaruhi oleh bagaimana kamu melihat dirimu sendiri?
"Awareness adalah kunci untuk memperbaiki diri dan situasi. Hanny membagikan tips-tips untuk membangun kesadaraan lewat tulisan yang sangat bermanfaat untuk menyadari jati diri kita agar kita selalu tumbuh menjadi seorang pecinta yang lebih baik." OLLIE, lover of life, Chief Content Officer Zetta Media Network
Dalam e-book Knowing How You Love ini, saya akan memandumu menggunakan teknik menulis gegas untuk mendapatkan kejelasan mengenai apa saja yang selama ini berkecamuk di dalam benak dan pikiranmu seputar cinta dan hubungan.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengalokasikan waktu sekitar 5 menit untuk setiap sesinya, dan membiarkan diri untuk jujur—dan menuliskan apa yang berkecamuk dalam benakmu, apa adanya.
Semua yang akan kamu lakukan dalam sesi-sesi yang akan datang ini bersifat pribadi. Kamu dapat menyimpan semuanya untukmu sendiri, tanpa perlu menunjukkannya pada siapapun. Jadi, biarkan dirimu lepas mencurahkan apapun yang kamu rasakan atau pikirkan selama 5 menit setiap sesinya, dan menulislah.
Menulislah.
Silakan klik di sini untuk mendapatkan e-book ini secara gratis!