Kita mungkin punya tujuan, namun jika kita belum pernah mengenal semua tempat tujuan, dapatkah kita yakin bahwa tujuan kita itu adalah tempat yang paling ingin kita kunjungi?
Sewaktu kecil, saya masih sering mendengar berbagai perkataan mengenai takdir.
"Mungkin belum takdirnya."
"Tuhan punya rencana lain."
"Jodoh hanya di tangan Tuhan."
Pada saat itu, kalimat-kalimat tadi tidak berarti banyak. Mereka hanyalah serentetan hal klise yang sudah terlalu sering saya dengar, bahkan saya bantah. Namun, belakangan saya menyesali betapa jarangnya saya mengingat keberadaan takdir. Sebuah keyakinan sederhana bahwa ada jalan yang telah tertulis bagi kita. Bahwa apapun yang terjadi atau apapun yang kita lakukan, kita pada akhirnya akan tetap dituntun menuju jalan yang telah ditentukan oleh 'takdir'.
Betapa inginnya saya untuk selalu percaya bahwa setiap hal yang terjadi (bahkan hal yang tak mengenakkan) adalah hal yang benar, hal yang seharusnya terjadi, dan karenanya, bahkan lewat kesalahan ataupun kegagalan, kita akan dibawa ke arah yang benar.
Takdir adalah teman baik dari ketidaktahuan dan kepasrahan. Walau tak bisa dipungkiri, saya masih sering memusuhinya. Mungkin ini sebabnya mengapa selama saya beranjak dewasa, saya mulai menolak takdir. Saya tidak ingin diberitahu bahwa sudah ada "rencana" bagi saya yang tidak bisa saya tentang. Atau bahwa akan ada sesuatu yang bisa terjadi tanpa bisa saya antisipasi.
Tentu saja.
Kita telah berusaha sebisa mungkin untuk menciptakan kehidupan terbaik yang bisa kita usahakan, namun "takdir" ini dapat merampas rencana-rencana kita dan membuang kerja keras kita sehingga nampaknya sia-sia belaka. Saya pun membuang jauh-jauh ide tentang takdir ini.
Ketika saya tengah berhasil dalam hidup, berbahagia, atau merasa memiliki kendali terhadap hidup, tentu saya lebih cenderung untuk tidak percaya takdir. Secara alami, saya ingin mengapresiasi diri untuk hal-hal baik yang saya peroleh. Bahwa semua kebaikan ini datang dari daya dan upaya saya.
Tapi ada juga saatnya ketika rencana saya tidak berjalan seperti seharusnya, meski saya sudah mengerahkan segala yang saya bisa. Dan pada saat-saat seperti ini, ketika saya terus berpikir bahwa segala hal berada dalam kendali saya sepenuhnya, maka hari-hari saya akan terasa seperti kegagalan.
TAKDIR: Sebuah Jalan Tengah
Kenyataannya, tidak semuanya dapat saya kendalikan. Maka saya memang bisa menciptakan kesuksesan saya sendiri, namun suatu "kegagalan" bisa juga menjadi permainan takdir yang berada di luar kendali saya.
Meskipun begitu, saya kemudian mulai belajar memercayai bahwa takdir tidak selalu buruk.
Tangan-tangannya yang tidak terlihat bisa mendorong kita hingga jatuh, namun juga bisa menopang kita di saat kita tidak mempu berjalan sendiri. Tangan-tangan takdir memastikan agar kita selalu berjalan dan selalu memiliki arahan. Tangan-tangan takdir pula, beserta rencana-rencananya yang tidak kita ketahui, yang mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak kita rencanakan dan bahkan tidak kita ketahui sebelumnya.
Banyak hal yang dapat kita kendalikan, namun dunia di mana kita hidup begitu luas. Akan selalu ada sudut-sudut jalan yang belum kita kunjungi dan tempat-tempat yang tidak kita kenal. Kita mungkin punya tujuan, namun jika kita belum pernah mengenal semua tempat tujuan, dapatkah kita yakin bahwa tujuan kita itu adalah tempat yang paling ingin kita kunjungi?Apakah tidak mungkin, seiring berjalannya waktu, kita bertemu hal-hal baru yang membuat kita lebih jatuh cinta daripada hal-hal yang pernah kita ketahui sebelumnya?
Saya mengenal begitu banyak hal dalam hidup saya sendiri, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa "takdir" mengenal jauh lebih banyak hal. "Takdir" bahkan telah membaca rencana-rencana Semesta bagi saya. Jadi, saya juga mesti belajar menerima bahwa mungkin saja memang ada sebuah rencana yang lebih baik dari rencana saya--yang bahkan akan lebih saya sukai daripada rencana yang saya miliki sekarang.
Takdir mengajarkan saya agar rendah hati dan menjadi fleksibel: karena ketika satu rencana--akibat 'takdir' tak berjalan sesuai keinginan, bukan berarti saya tak bisa membuat rencana-rencana baru untuk mencapai tujuan baru yang diarahkan 'takdir'. Maka, bicara tentang takdir, kini saya mengambil jalan tengah: ada saatnya kita harus percaya takdir, walau tidak berarti juga kita tak boleh merancang rencana-rencana kita sendiri.