Jutek, mengintimidasi, menyeramkan, tidak bisa diajak bercanda. Demikian beberapa kata yang digunakan sebagian kenalan untuk menggambarkan kepribadian saya. Apakah saya terlahir demikian?
Menurut Ibu, saya adalah anaknya yang paling riang gembira, meski suka sesenggukan menangis jika diomeli atau menonton film sedih. Di lain sisi, saya juga anaknya yang paling sensitif. Lalu darimana munculnya si jutek yang terdengar menyebalkan ini?
Perubahan saya berasal dari rasa marah. Rasa patah hati dan rasa kecewa kepada orang yang saya percaya sepenuh jiwa raga, rasa dikhianati, rasa ditelantarkan setelah saya berikan semua yang saya bisa, rasa bodoh dan diperalat. Satu-persatu dan perlahan-lahan, senyum dan kesabaran hilang dari kosakata kepribadian saya.
Orang-orang di sekitar mulai menjauh, jika tidak membicarakan saya dari belakang. Hanya sejumlah orang terdekat saja yang berani langsung mengutarakan keberatan mereka dengan sikap saya. Dunia yang indah serasa dingin dan hampa, dipenuhi kabut amarah.
Tapi mungkin ada rasa tersembunyi di balik amarah yang menggebu itu. Seorang anak kecil yang penuh rasa kecewa dan tak berdaya sedang bersembunyi di balik tirai amarah dalam usahanya menunjukkan ketegarannya. Seorang perempuan sensitif yang ditempa berkali-kali sehingga air mata tidak lagi menetes dan cukup baginya untuk membuka perasaannya. Toh, pada akhirnya kita hidup sendirian. Tidak ada yang berlangsung selama-lamanya.
Nothing lasts forever.
Jika ini hari terakhir saya di dunia, saya ingin agar orang-orang kesayangan saya tahu betapa saya mengasihi mereka meskipun saya seringkali marah. Sayangnya, mereka hanya akan mengingat waktu yang kita lalui bersama, baik itu dipenuhi tawa lepas atau teriakan dan air mata. Pilihan itu kembali ke tangan saya.
Saya bisa bersembunyi di balik tirai dan mengintip orang lain hidup dengan lepas, atau saya bisa melepaskan diri dari rasa marah dan berusaha menggapai mimpi-mimpi yang belum tercapai. Fokus kepada tujuan hidup daripada masalah dan ketidaksempurnaan yang berlangsung saat ini. Sulit, tentunya, tapi bukan mustahil.
Akan ada hari-hari kelabu di mana saya akan lupa bahwa matahari masih bersinar. Di saat-saat inilah saya akan berhenti sejenak untuk menarik napas, menghitung angka satu sampai lima, dan mengingatkan diri sendiri yang sedang menutup tirai untuk menerima diri saya dan kenyataan yang ada seperti apa adanya. Lalu menunjukkan orang-orang kesayangan saya betapa berharganya mereka. Karena kita hidup hanya sekali dan kita tidak bisa mengulang apa yang telah berlalu. Penyesalan selalu datang terlambat.
Oleh karena itu, lepaskan bebanmu sejenak.
You're not alone...