"Jangan bekerja mati-matian untuk meraih hal-hal yang tidak akan engkau bawa mati" - seseorang

Tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah "pengakuan dosa" pribadi serta peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi renungan-renungan saya tentang makna cita-cita dan ambisi yang sebenarnya, yang dipicu oleh beberapa peristiwa yang tidak mengenakkan dalam hidup.

Pertama, izinkan saya bercerita mengenai keadaan pribadi saya terlebih dahulu. Seperti yang mungkin telah berulang kali saya ceritakan dalam artikel-artikel saya sebelumnya, saya adalah orang dengan rasa 'insecure' (tidak aman), tidak percaya diri dan rendah diri yang sangat tinggi, diikuti dengan kebutuhan akan pengakuan orang lain yang tidak kalah parahnya.

Semua sifat-sifat itu, selain mungkin memang sudah menjadi tabiat dasar saya, diperburuk dari bullying fisik, mental dan sosial yang saya dapatkan dari banyak sekali orang di sekitar saya sedari masih kecil hingga sudah dewasa dan bekerja.

Akibat tidak terima dikecilkan dan dicemooh orang lain, saya akhirnya bekerja keras, begitu keras untuk dapat meningkatkan harga diri saya di mata saya sendiri, dan dengan lugunya saya juga membayangkan bahwa pencapaian yang saya miliki pun akan membuat orang lain menjadi lebih menghargai saya.

Padahal, sesuai dengan penemuan saya belakangan dalam hidup: pembenci akan tetap menjadi pembenci, ia tidak akan pernah kagum apapun prestasi yang kita torehkan dalam hidup.

Sadar bahwa saya membawa lubang besar dalam diri yang tidak akan pernah bisa diisi dengan prestasi macam apapun, juga penerimaan orang yang tidak selalu positif, justru malah cenderung merendahkan dan meremehkan, apa yang telah saya perbuat kemudian membuat saya jadi orang yang tidak pernah puas.

Saya selalu bekerja keras dan membaktikan hampir seluruh waktu saya untuk bisa meraih sesuatu yang lebih baik, yang lebih baik. Kalau diingat-ingat kembali, tiada sedetik pun dalam hidup saya dimana saya tidak mengangankan soal cita-cita saya, ambisi saya juga cara-cara untuk mencapai mereka.

Saya jadi tidak bisa menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Saya mulai mengalami melankoli berlebihan, kecemasan serta pikiran murung yang berputar-putar ke situ-situ lagi. Namun saya tidak menyadari bahwa malapetaka yang muncul dalam kehidupan pribadi saya berasal dari kelakuan saya sendiri, yang tidak bisa santai dan terlalu tegang serta tertekan untuk bisa mengejar ambisi-ambisi yang saya bayangkan bakalan membuat saya dan orang lain merasa jauh lebih baik tentang diri saya sendiri (yang ternyata tidak).

Kalau boleh jujur, ada sebuah masa singkat dalam hidup saya dimana saya merasa berjaya dalam pekerjaan yang saya lakukan. Saya bertemu dengan banyak orang dan diminta menulis tentang banyak hal. Kebanggaan saya sempat naik. Saya sempat merasa berada di atas angin.

Saya, yang dulu begitu benci ketika diremehkan orang lain pun, menjadi nyinyir dan sangat jahat mempergunjingkan orang-orang yang saya anggap 'saingan' saya, yang saya anggap mutunya lebih buruk dari saya. Setelah saya renungkan kembali belakangan ini, waktu itu saya bisa sedemikian jahat membicarakan orang lain disebabkan tidak lain dan tidak bukan oleh rasa 'insecure' saya sendiri, juga lubang-lubang di jiwa saya yang ternyata tidak dapat ditambal oleh prestasi macam apapun.

Akhirnya, saya yang sadar bahwa semua pencapaian di kantor yang saya pikir dapat mengobati harga diri saya yang buruk itu sama sekali tidak membantu apapun kemudian mencoba mencari kompensasi dengan menjelek-jelekkan orang lain untuk merasa baik tentang diri saya sendiri, sesuatu yang justru membawa banyak penyesalan dan rasa malu/bersalah serta membuat saya merasa semakin buruk akan diri saya sendiri.

Kemudian sebuah 'peringatan' dari Tuhan datang menyapa saya.

Karena satu dan lain hal, maka keterlibatan saya dalam menangani beberapa tugas kemudian dikurangi secara signifikan. Saat itu saya merasa begitu terpukul, sumber harga diri yang sebelumnya saya bangga-banggakan bagaikan jatuh dan pecah berserak menjadi kepingan-kepingan tidak berarti.

Karena frustrasi, akhirnya saya mengalami rasa tertekan berkepanjangan dan mengalami sakit selama berbulan-bulan, menguras kantong saya. Orang-orang yang mulai tidak tahan dengan kelakuan saya yang cenderung berpusing-pusing dalam masalah saya sendiri pun mulai meninggalkan saya.

Namun, tunggu dulu.

Hal-hal yang saya ceritakan ini bukanlah 'tragedi' yang saya maksudkan dalam judul cerita, karena mungkin agak berlebihan jika mengacu pada peristiwa-peristiwa kurang beruntung ini sebagai tragedi. Sejatinya, ada beberapa tragedi lain yang menimpa orang lain yang dekat dengan saya, yang kemudian membantu saya untuk menata kembali cara saya dalam menjalani hidup.

Adalah seorang teman yang begitu cerdas, kalau tidak salah IQ-nya di atas 120. Ia begitu cerdas. Berkat kecerdasannya serta kerja kerasnya yang luar biasa (sehari ia hanya tidur 3 jam, kalau tidak salah), maka ia dapat melakukan banyak hal dengan kecepatan yang jauh di atas rata-rata, melampaui kebanyakan orang yang seumuran dengannya.

Saya dan orang-orang lain begitu mengaguminya karena begitu jarang ada orang seusia dia yang telah berhasil memboyong begitu banyak pencapaian dalam hidupnya. Terakhir, dia bahkan menjadi orang pertama yang paling muda untuk diangkat menempati sebuah posisi tinggi di tempatnya bekerja. Semua persiapan administratif telah dilakukan kantornya, tinggal seremonial saja. Tiba-tiba sesuatu terjadi.

Teman saya itu kemudian didiagnosa dokter dengan sebuah penyakit (demi melindungi identitas teman saya, saya tidak akan menyebutkan apa macam penyakitnya). Penyakit ini demikian seriusnya sehingga ia harus meluangkan seluruh waktunya untuk pengobatan.

Praktis, jabatan tinggi tersebut urung diberikan padanya dan ia harus menghabiskan waktu berbulan-bulan tidak mengerjakan apapun, yang saya bayangkan pasti akan menekan dirinya yang pada dasarnya memang suka bekerja dan memiliki otak yang haus akan stimulasi.

Kisah yang lebih dekat lagi dengan saya adalah pengalaman ibu angkat saya sendiri, yang telah menempati sebuah posisi yang sangat tinggi dalam sebuah perusahaan, tiba-tiba harus kehilangan segalanya, termasuk teman-temannya, ketika ia mulai menderita penyakit multiple sclerosis pada tahun 2008 yang lalu.

Puji Tuhan sekarang keadaan fisiknya telah membaik, namun ia selalu mewanti-wanti saya untuk santai saja dalam hidup, karena pengalaman konkretnya menunjukkan bahwa sungguh sia-sia kita bekerja mati-matian, hingga merusak fisik dan mental kita serta menghancurkan jejaring pertemanan kita, untuk meraih sesuatu yang toh bisa direnggut dari diri kita sewaktu-waktu.

Banyak peristiwa naas terjadi pada orang di sekitar saya belakangan ini.

Ada seorang rekan yang meninggal dunia setelah mengalami perdarahan otak. Teman saya pun berjuang dengan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer's tahap lanjut, yang kini sudah tidak mampu lagi mengingat apapun.

Semua tragedi ini, termasuk juga dengan sakit penyakit dan kesulitan keuangan ringan yang saya alami, kemudian menyadarkan saya, betapa rapuh dan berharganya hidup itu.

Dulu, kematian dan sakit penyakit terasa begitu jauh dari diri saya, namun pengalaman nahas bertubi-tubi yang dialami beberapa kawan saya dan saya sendiri seperti mengingatkan saya untuk lebih 'santai' dalam hidup.

Salah satu hal konkret yang saya lakukan untuk lebih santai dalam hidup ini adalah tidak lagi mau mengambil pekerjaan tambahan (semisal tidak terlalu penting/hanya bersifat 'opsional') di akhir pekan dan tidak lagi mau membaca hingga larut malam demi memuaskan ambisi saya menjadi penulis dengan wawasan yang luas. Saya berani menolak pekerjaan sampingan apabila saya sedang terlalu letih, mengorbankan cita-cita untuk memperluas portfolio pribadi saya.

Saya pun mulai mengatur jam tidur saya, wajib ke tempat tidur paling lambat pukul 11 malam dan bangun paling lambat pukul 6 pagi serta tidak lagi mengkonsumsi kopi setelah jam 12 siang, setelah sebelumnya gila-gilaan memforsir tubuh saya hingga subuh untuk membaca dan menulis demi mengejar prestasi.

Namun perubahan tidak terjadi dalam satu sapuan tangan saja. Belakangan, saya mulai lupa diri lagi. Saya diterima dalam sebuah kelas menulis yang seleksinya ketat dan diminta untuk mengisi kolom esai di koran tempat saya bekerja. Tiba-tiba, hasrat lama untuk membuktikan diri sendiri pun mulai 'menggila' lagi dan dengan cepatnya, saya kembali ke kebiasaan awal, menyusun target berapa halaman buku yang hendak saya baca, menulis esai-esai selepas pukul 12 malam.

Akhirnya tubuh saya pun memberontak lagi, yang mempengaruhi mental saya, yang cenderung berputar-putar dalam melankoli tanpa akhir, sampai mengarah ke burnout. Karena burnout yang disebabkan perhatian yang serta-merta tersedot oleh keinginan meraih prestasi itu pun, saya sempat merasa bahwa tidak ada satu hal pun yang saya lakukan di dunia ini ada artinya. Sempat terbersit dalam kepala saya bahwa mungkin akan lebih menyenangkan apabila saya mati saja.

Meskipun saya semakin banyak menulis dan membaca, namun itu tidak lantas membuat saya lebih bahagia, namun justru semakin terasing dari sesama saya, semakin egois dan berpusat pada diri sendiri, juga semakin letih secara jasmani. Titik balik kedua yang saya alami adalah ketika lagi-lagi saya harus kehilangan banyak uang untuk berobat dan nyaris membahayakan pekerjaan saya karena harus sering absen atau bekerja dari rumah.

Namun sepertinya, titik dimana kita nyaris kehilangan segalanya bisa jadi titik di mana kita belajar memahami arti hidup sesungguhnya.

Saya beruntung dikelilingi oleh banyak orang baik dan pengertian yang membantu saya untuk juga membangun makna yang baik dari seluruh kemelut hidup saya.

Redaktur saya di kantor, misalnya, mengingatkan bahwa jangan sampai karena kita terlalu mengejar hal 'besar' dalam hidup, kita jadi melupakan hal-hal 'kecil' yang telah kita lakukan dan sebetulnya begitu bermakna.

Tulisan-tulisan saya di koran, misalnya, meskipun tidak saya sadari, dibutuhkan oleh pembaca dan juga klien (dalam kasus advertorial). Ia mengatakan bahwa kendatipun mungkin ada beberapa orang yang mencemooh pekerjaan kami, namun yang kami lakukan tetaplah bermanfaat dan jangan sampai karena saya tergoda oleh hal-hal destruktif (misalnya depresi, keinginan bunuh diri), karena sungguh sayang bahwa 'talenta' yang saya miliki ini harus hilang sementara disadari atau tidak saya sebetulnya bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain melalui tugas-tugas jurnalistik ataupun menulis iklan yang saya emban.

Nasihat dari beliau pun kemudian diperkuat oleh seorang teman saya yang lain, yang saya temui dalam kelompok dukungan sebaya berbalut klub buku kami, Baca Rasa Dengar. Ia menuturkan bahwa belakangan ia begitu kecewanya karena gagal mendapatkan sebuah kesempatan menuntut ilmu lebih jauh lagi, sampai-sampai pekerjaannya nyaris berantakan semua. Untung ia pun memiliki atasan yang juga pengertian seperti yang saya miliki yang berusaha untuk menilik masalah apa gerangan yang kami alami, alih-alih langsung menghakimi kami sebagai orang yang tidak melalaikan pekerjaan.

Setelah mendengarkan penuturan teman saya ini, atasannya pun mengingatkan hal serupa yang diucapkan redaktur saya: "Jangan sampai kekecewaanmu karena gagal memiliki apa yang kamu inginkan membuat kamu kehilangan apa yang sudah kamu miliki saat ini". Dalam kasus kami, yang telah kami miliki saat ini bisa termasuk pekerjaan, kesehatan juga kawan-kawan (kalau dalam kasusku yang ditinggal teman-teman yang menjadi jemu dengan keegoisanku dan juga melankoliku yang berlarut-larut).

Pada akhirnya, semua peristiwa tersebut, beserta upaya saya untuk mencerna mereka, berbuah sebuah epifani atau pencerahan. Kesadaran bahwa di tengah penderitaan kita masih ada orang-orang yang tanpa kita duga-duga peduli akan keadaan kita (seperti redaktur saya dan atasan teman saya), juga rasa tergugah bahwa teman-teman dan ibu angkat saya masih bergairah menjalani hidup di tengah segala keterbatasan yang disebabkan penyakit mereka membuat saya lebih menghargai hidup: menghayati setiap saat yang kita lewati, karena saat-saat itu tidak akan kembali lagi.

Oprah Winfrey mengatakan bahwa setiap kawan kita yang dipanggil Tuhan adalah malaikat yang mengingatkan kita akan betapa berharganya hidup. Dalam kasus itu, kepergian rekan saya pun mengingatkan bahwa hidup saya pun bisa lenyap sewaktu-waktu, satu hal yang mengukuhkan penghargaan saya akan hidup.

Lebih jauh lagi, teman-teman saya di Baca Rasa Dengar mengingatkan saya, dengan penuh belas kasih mereka, untuk tidak terlalu serius dalam menjalani hidup, santai dalam mengejar cita-cita saya dan untuk menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Akibat tersentuh oleh belas kasih yang mereka tunjukkan kepada saya, saya pun segera menyerap nasihat-nasihat mereka.

Saya yang awalnya hanya tergugah oleh hal-hal besar (bisa menulis artikel tentang urusan yang rumit, mewawancarai tokoh besar, melihat tulisan saya naik di koran, dst), kini pun tergugah ketika naik angkot di tengah malam dan menikmati pemandangan sekitar. Saya bahagia ketika disuruh liputan ke Siloam Karawaci, naik shuttle bus dan menikmati roti sosis sembari menunggu jadwal wawancara. Saya gembira ketika bangun pagi-pagi menikmati secangkir kopi sebelum kemudian berangkat naik taksi bersama rekan kerja saya menuju sebuah rapat.

Saya girang ketika bermain-main dengan anjing milik bibi saya di rumah, atau ketika bersantai mendengarkan musik dan membaca buku selepas hari kerja yang melelahkan atau menunggu kawan saya di tangga pelataran fx plaza untuk saling bergosip melepas lelah seusai liputan.

Saya juga menyadari bahwa saya sesungguhnya tidak perlu meladeni mereka-mereka yang dulu pernah melecehkan saya karena menganggap apa yang saya lakukan ini tidak ada artinya. Saya pun menyadari bahwa mereka adalah korban dari sistem yang sama, sistem kapitalis yang menilai orang hanya dari pencapaian materialnya.

Saya pun menyadari seringkali mereka juga menderita akibat standar-standar tinggi yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri dan orang lain, yang mungkin bahkan mereka pun gagal capai. Untuk apa membuang-buang tenaga untuk orang-orang macam itu?

Hal-hal kecil kini begitu menggugah saya. Karena kini saya sadar betul, sewaktu-waktu hidup ini dapat hilang begitu saja. Ambisi yang begitu berlebihan dan destruktif pun hanya akan mempercepat 'lenyap'nya saya.