"Menjadi pimpinan tak harus selalu super pintar. Kemampuan dan kerendahan hati untuk mendengarkan, menunjukan kualitas seorang pimpinan."
Sebuah pesan via BBM datang seperti petir pagi itu. Membacanya seolah tak percaya. Sambil terhuyung dengan lutut lemas kuhubungi pengirim pesan untuk memastikan. Seorang teman, mantan atasan, telah dipanggil Tuhan. Tak kusangka dia pergi secepat ini.
Pertemanan kami terjadi justru setelah aku mengundurkan diri. Saat tak lagi sebagai atasan dan bawahan, segala bahan pembicaraan justru mengalir dengan lebih lancar. Meski masih kuingat, pengunduran diriku membuatnya tercekat. Tanpa banyak cakap, keputusan telah kubuat. Aku, yang saat itu mempertanyakan tentang panggilan dan makna hidup memutuskan untuk pergi dan beristirahat sejenak dari hingar bingar dunia kerja. Tentu, dia tak serta merta melepasku. Hasil tawar menawar membuatku mengulur waktu.
Pagi itu, setelah kukirimkan email pengunduran diri hari sebelumnya, kami berdiskusi. Dia menawariku untuk tetap tinggal dan membatalkan pengunduran diri atau setidaknya memikirkan ulang keputusanku untuk pergi. Waktu satu minggu diberikannya padaku untuk memikirkan ulang. Seminggu kemudian, kami kembali berdiskusi. Kali ini, dia lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya. Tentang kenapa akhirnya mengabdi di perusahaan ini. Salah satu perkataannya tentang makna pekerjaanlah yang membuatku mengulur waktu dan menunggu sampai mendapatkan penggantiku sebelum aku resmi mengundurkan diri.
“Hasil pekerjaan kita yang merasakan bukan hanya diri sendiri atau keluarga semata. Di dalam perusahaan yang sudah besar dengan karyawan ribuan seperti ini, langkah yang kita ambil berpengaruh pada kehidupan banyak orang karena proses yang ada saling terkait. Jika hasil kerja kita bagus, yang merasakan juga ribuan karyawan lain beserta keluarganya yang bekerja di semua pabrik atau distribusi yang jauh dari kantor pusat ini. Begitu pula sebaliknya. Tak ada peran kecil di sini. Semua peran memiliki makna masing-masing.”
Diskusi itu dan perkataannya inilah yang kemudian mulai meruntuhkan dinding atasan-bawahan dan memunculkan tunas pertemanan. Pandanganku terhadapnya mulai berubah.
Sebagai atasan, kesempatan yang telah dia berikan membentukku menjadi pribadi seperti saat ini. Saat aku sendiri tak bisa melihat potensi diri, dengan kepercayaan penuh, dia memberikanku ruang untuk berkembang. Kesenanganku membaca pola dan angka serta semangatku untuk belajar hal baru membuatnya mengangkatku sebagai analyst. Segala ilmu dan tanggung jawab baru disematkan padaku. Kesempatan itu yang membuatku menyadari potensi diri.
Divisi kami adalah divisi paling muda saat itu. Dibangun sebagai salah satu bentuk inisiatif management untuk meningkatkan efisiensi. Dia bukanlah pimpinan kami yang pertama, yang bersama-sama membangun divisi ini dari nol. Restrukturisasi organisasi membawanya kepada kami. Sebagai orang tanpa pengalaman di bidang yang sesuai divisi kami, kedatangannya kami sanggah. Kemampuannya kami ragukan. Kami bahkan meminta penangguhan keputusan pergantian pimpinan melalui atasan lama kami. Seorang teman yang pernah bekerja dalam satu project yang sama dengannya sempat berkata bahwa kali ini kami dapat pimpinan yang lebih manja dan bossy. Maunya terima beres.
Tapi ternyata kabar burung itu tak sepenuhnya benar. Sikap yang ditunjukan pada kami sungguh berbeda. Menyadari sebagai atasan yang minim pengalaman, mejanya selalu terbuka untuk masukan. Ditunjukkannya semangat belajar yang tinggi. Tanpa rasa gengsi, didengarnya penjelasan dari kami. Meski proses itu sempat membuatnya terlihat lemah dan kurang tegas, tapi semakin lama semakin terasah pula kemampuannya dalam mengambil keputusan-keputusan penting.
Darinya aku belajar, menjadi pimpinan tak harus selalu super pintar. Kemampuan dan kerendahan hati untuk mendengarkan, menunjukan kualitas seorang pimpinan. Memberikan kepercayaan dan ruang bagi kami untuk bertumbuh, membuat divisi kami berkembang makin pesat. Kepercayaan kami kepadanya sebagai pemimpin semakin bertambah ketika dengan dia berani ‘pasang badan’ untuk memperjuangkan improvement proses penentuan target business plan supaya tidak melulu top down yang membuat kami frustasi tetapi juga mengakomodasi hasil analisis bottom up.
Sebulan sebelum pesan BBM yang membuat lemas lututku itu, kami bertemu. Dia memberiku dua buah boneka kayu, oleh-oleh dari perjalanan bisnisnya ke Jepang. Sambil makan, kami bertukar cerita tentang hidup dan pekerjaan. Saat itu, kuperhatikan dia tampak sedikit kelelahan. Badannya juga sedikit kurang fit. Potongan cabe rawit dibubuhkannya pada mie pesanannya. Dia memilih makanan hangat dan berkuah untuk menyegarkan badan.
Di tengah obrolan itu, terceletuk keinginannya untuk suatu saat bertemu suamiku. Seseorang yang berperan dalam hidupku, yang memantapkan niatku untuk mengundurkan diri. Dua minggu kemudian, dengan campur tangan Tuhan, kami pun bertemu. Saat kebetulan aku bersama dengan suamiku. Perkenalan singkat terjadi di tengah sebuah acara. Tak kusangka di pertemuan terakhir itu, permintaan terakhirnya pun terpenuhi.
Tahun ini, genap dua tahun dia pergi. Namun, semua pelajaran hidup dan kenangan tentangnya tetap terpatri di hati.
"Beristirahatlah dalam damai di surga, Pak. Terima kasih atas pelajaran hidup yang kau tinggalkan bagi kami."