“In this world, there are things you can only do alone, and things you can only do with somebody else. It's important to combine the two in just the right amount.” ― Haruki Murakami, After Dark
Pada penghujung tahun 2012 dan awal tahun 2013, ketika karena satu dan lain hal saya kemudian memutuskan untuk beralih pekerjaan dari profesi saya sebelumnya sebagai guru menjadi seorang wartawan (yang ternyata adalah pekerjaan yang sangat saya sukai dan kemudian masih saya geluti sampai sekarang) di harian The Jakarta Post (TJP), saya sering sekali mendengar senior saya berulang-ulang bertanya pada saya apakah saya betul-betul yakin untuk bekerja di bidang ini.
Karena dunia jurnalistik mengandung banyak sekali tantangan dan kesulitan, salah satu wanti-wanti yang saya ingat adalah bahwa para wartawan itu memiliki kehidupan sosial yang sangat minim karena terlalu sibuk bekerja dan dicerai-beraikan oleh jadwal kerja yang saling tumpang tindih. Pada awalnya, saya tidak terlalu takut saat mendengarkan penjelasan tersebut karena sudah terbuai oleh romantisme dan heroisme yang seringkali dilekatkan orang pada pekerjaan ini, bahwa para jurnalis itu adalah orang-orang penuh dedikasi yang mengorbankan diri dan kepentingan pribadi mereka untuk menyebarluaskan informasi penting ke khalayak umum.
Singkat kata, saya kemudian tetap bersikukuh dengan keinginan saya menjadi wartawan.
Sadar mengenai jadwal pekerjaan yang padat serta tuntutan untuk bisa kesana kemari setiap waktu, pada akhirnya saya memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kos yang letaknya persis di belakang kantor saya. Lagi-lagi, saat itu saya sama sekali tidak memikirkan risiko yang mungkin harus saya tanggung saat tinggal di rumah kos, seperti perasaan kesepian atau sumpek, termakan lagi oleh bayangan romantis yang saya ciptakan sendiri bahwa pada akhirnya saya, di usia yang ke-23, akan memulai sebuah hidup yang independen, dimana saya bertanggung jawab atas semua hal dalam hidup saya, termasuk membiayai tempat tinggal saya sendiri.
Sebetulnya ini bukan kali pertama saya tinggal dalam rumah kos. Saat masih kuliah saya juga sudah pernah mengalami hal itu. Jeda waktu antara lulus kuliah dengan bekerja di TJP kemudian saya habiskan dengan tinggal di rumah keluarga saya di Depok, tempat dimana saya bertumbuh dewasa. Saya selalu berada di rumah dan dikelilingi oleh banyak anggota keluarga. Saat saya kos semasa kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pun, rumah indekos diramaikan oleh teman-teman satu fakultas dan satu kampus. Saya pun seringkali menerima kunjungan teman-teman kuliah baik untuk mengerjakan tugas kuliah maupun hanya sekadar bersenda gurau di tempat kos saya.
Sedari kecil hingga usia dewasa awal, saya terbiasa hidup dikelilingi banyak orang, dan berinteraksi dengan banyak orang.
Penting juga diceritakan dalam konteks tulisan ini bahwa ketika saya kecil hingga remaja, saya mengalami pembulian (bullying) yang keras secara sosial, fisik dan mental. Saya juga memiliki orangtua kandung yang tidak menjalankan fungsi mereka semestinya sebagai orang tua. Saya mempelajari ketika kuliah di Psikologi bahwa dua hal tersebut, apabila disatu-padukan, kemudian menciptakan pribadi yang rapuh, yang sulit memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan orang lain.
Kalau konsep abstrak ini saya terjemahkan ke dalam hal-hal konkret yang saya alami dalam keseharian, saya seringkali merasa mudah terpukul oleh tekanan-tekanan kecil dalam hidup, menjadi murung dan merasa kesepian ketika sendirian (yang seringkali membuat saya kemudian selalu berusaha untuk berada di dekat orang lain).
Namun, dalam hubungan pertemanan yang saya miliki dengan banyak orang pun, saya tidak merasa aman karena senantiasa merasa takut ditinggalkan dan juga karena saya memang membawa lubang dalam jiwa yang tentu saja tidak akan pernah penuh jika diisi oleh orang lain ataupun kesibukan lain.
Nah, kedua hal yang saya ceritakan tadi kemudian berimbas dalam keseharian saya sebagai jurnalis dan anak kos. Setelah beberapa tahun bekerja, lama kelamaan saya seringkali merasakan kesepian yang menyengat, terutama di saat maghrib menjelang malam hari ketika sebetulnya pekerjaan saya sudah selesai (saya wartawan mingguan, makanya tidak perlu begadang seperti wartawan harian). Setiap kali pekerjaan selesai, saya merasakan keinginan yang kuat untuk bisa makan bersama dengan orang lain karena saya memang ingin mengobrol. Tetapi, kadang-kadang juga keinginan untuk makan bersama itu didorong oleh rasa takut akan kesendirian.
Sayangnya, seperti yang sudah saya uraikan di atas, karena jadwal sesama wartawan yang sering bentrok dan kesibukan kami yang luar biasa, saya (kami?) tidak selalu bisa mendapatkan waktu untuk makan bersama.
Terkadang, ketika kegelisahan saya sedang kambuh, saya menjadi begitu ngeri membayangkan bahwa selepas kerja, saya harus makan sendiri lalu kembali ke kamar kotak sepatu saya, dimana saya terkurung sendirian di antara warga penghuni kos yang tidak saling kenal ataupun saling sapa satu sama lain.
Kalaupun kita coba menyapa, maka kebanyakan tanggapan yang didapatkan adalah sikap acuh tak acuh, seringkali dengan raut wajah yang judes. Meskipun pada akhirnya saya menikmati waktu sendirian di rumah kos untuk membaca buku-buku favorit saya, namun bayangan harus masuk ke ruang kos lalu mendaki tangga ke kamar saya di lantai 3 sembari menghadapi 'kebekuan' warga Jakarta yang individualis kemudian membuat saya pilu. Berdasarkan pengkajian saya sendiri, rasa kesepian dan kecemasan akan kesepian ini disebabkan oleh dua hal yang sudah saya sebut di atas: kebiasaan tinggal di rumah dengan keluarga dan kerapuhan mental karena mengalami bullying.
Saya menjadi semakin takut ketika membaca sebuah artikel di TJP bahwa makan sendirian dapat menyebabkan depresi. Nah, lho! Saya jadi semakin cemas apabila harus menghabiskan malam demi malam saya sendirian selepas kerja.
Rasa kesepian yang paling parah saya alami kira-kira sekitar bulan Mei tahun lalu, begitu intensnya sampai saya bisa merasakan nyeri di sekujur tubuh saya. Saya juga ingat, waktu itu saya pulang dengan perasaan hampa dan menyesali diri sendiri, mengapa harus menghabiskan banyak malam-malam saya sendirian tanpa teman bicara, sekadar untuk melepaskan diri dari kepenatan kerja dan hidup yang mengungkung.
Seringkali saya merasa iri pada orang-orang di kantin yang bisa makan bersama dengan rekan-rekan mereka. Saya pun bertanya-tanya, apakah dalam benak teman-teman wartawan saya yang lain, yang malah lebih sering membungkus makanan untuk dimakan di meja makan saking sibuknya, pun pernah terbersit rasa kesepian yang sama? Apa saya saja yang memang lemah secara mental?
Untungnya, semua pergolakan intens yang sempat mengepung batin saya itu tidak berlangsung terlalu lama. Dalam perjalanan waktu, bersama dengan upaya saya juga untuk melakukan olah rasa, olah pikir dan olah raga untuk menyembuhkan trauma saya serta menenangkan gejala-gejala kecemasan yang seringkali menyeruak di kepala, perlahan akhirnya saya mulai bisa menghadapi kesendirian saya dengan tenang.
Saya mulai membangun pertemanan dengan orang-orang yang mungkin tidak selalu bisa berada di dekat saya, namun saya tahu juga menggeluti perjuangan yang sama dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dengan perjalanan waktu, kiprah saya di dunia jurnalistik (yang juga dibarengi dengan pekerjaan menulis advertorial) juga menanjak, suatu hal yang telah membuat benih-benih rasa percaya diri mulai berkecambah di dalam diri saya.
Gagasan untuk pulang kantor tanpa makan malam bersama teman tidak lagi semenakutkan dulu, kendatipun terkadang ketika kondisi fisik dan mental saya sedang kurang prima, hal itu bisa membuat saya tercelup dalam melankoli. Namun, seperti pilihan kata yang saya gunakan, 'tercelup' dan bukan 'tenggelam', lebih mudah bagi saya untuk melepaskan diri dari melankoli tersebut dan mengeringkan tubuh saya lagi.
Kemudian, hal lain yang membuat saya lebih tenang dalam menerima kesendirian dalam rumah kos adalah: kesadaran bahwa ternyata bukan saya saja warga kos yang sering merasa kesepian!
Banyak anak-anak kos lainnya yang ternyata sering mengalami keluhan yang sama, yang saya temui dalam bentuk curahan-curahan hati di blog ketika mengetik kata "kesepian di kos" pada alat pencari Google.
Saya akhirnya sadar bahwa perasaan cemas dan gejala-gejala melankoli adalah dua hal yang senantiasa menyapa manusia. Kesadaran bahwa banyak teman saya dari Kelompok Kompas Gramedia yang lain juga harus hidup di kos pun kendati tidak tahan dengan kacaunya lalu lintas Jakarta pun menyuntikkan sedikit semangat perjuangan dalam benak saya, karena saya merasa menjadi bagian dari sekelompok orang yang sama-sama tertantang untuk bisa menghadapi kenyataan sehari-hari yang senantiasa berubah-ubah dengan hati yang tenang dan pandangan yang terang.
Pelan-pelan, saya mulai bisa mensyukuri waktu saya sendirian di kos, karena malam hari bisa saya habiskan untuk membaca buku-buku kesukaan saya, terutama yang berkategori sastra, tanpa gangguan. Di saat ketika saya merasa ingin berkumpul dengan teman saya, saya akan menghubungi mereka dan melihat apakah jadwal kami memang cocok untuk bisa saling bertemu.
Banyak teman saya yang menyangka bahwa saya adalah seorang ekstrovert karena saya bisa dengan mudah bergaul dan berbincang-bincang dengan banyak orang. Saya memang merasa bertenaga dan terinspirasi setiap kali selesai mengobrol dengan orang lain, namun saya bukan ekstrovert. Saya adalah sebuah baterai yang perlu untuk diisi kembali. Terkadang, saya mengisi baterai saya di antara kerumunan sahabat untuk menyiapkan saya menghabiskan waktu-waktu dimana saya harus sendirian, dan saya juga sering mengisi baterai saya dalam kesunyian untuk menyiapkan saya menghabiskan waktu-waktu dimana saya harus mengelilingi diri dengan orang lain. Terkadang, saat saya sedang letih berhadapan dengan orang lain dalam sebuah acara liputan, saya sering menghabiskan waktu beberapa menit di dalam bilik toilet. Ternyata, ada redaktur saya yang juga melakukan hal yang sama!
Pada akhirnya, dalam membagi waktu untuk kegiatan soliter dan kolektif, saya berpegang pada kata-kata penulis pujaan saya Haruki Murakami dalam bukunya After Dark: “In this world, there are things you can only do alone, and things you can only do with somebody else. It's important to combine the two in just the right amount.”
Perjuangan untuk mengkombinasikan keduanya merupakan proses belajar yang terus saya alami dari hari ke hari. Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya sudah mencapai happy ending dimana ketenangan yang telah saya capai di atas bersifat stabil dan tetap. Persoalan kesepian atau kekosongan merupakan suatu hal yang sulit untuk dijawab dan merupakan tantangan kehidupan yang harus dihadapi manusia urban yang individualis dari hari ke hari.
Terkadang, saya masih sering dilanda oleh perasaan kesepian yang menyengat, terutama saat saya harus meninggalkan kantor untuk kembali ke rumah kos. Oleh karena itu, saya menulis artikel ini sesungguhnya untuk mengingatkan diri saya sendiri. Lain kali, ketika saya dicekam perasaan takut sendirian ketika akan kembali ke kamar kotak sepatu saya, saya akan membaca tulisan ini.
Kita toh sering dilanda kesepian, lantas mengapa tidak membicarakannya?
Bagi teman-teman lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama di kos-kosan, saya sangat tertarik untuk mendengar dari kalian. Dan, sementara menunggu, izinkan saya menyitir lagu Bon Jovi yang liriknya sudah saya pelesetkan, mungkin bisa menjadi anthem khusus untuk anak kos-kosan: "Ooh, we're halfway there... / ooh, living in a *shoebox...**"*