Setelah orang tua saya berpisah, saya jadi lebih mengerti arti keluarga yang sesungguhnya.

Saya masih ingat benar pagi itu. Sekitar pukul 9. Sebuah pagi di hari Minggu, 21 tahun lalu.

Matahari pagi bersinar cerah. Hangatnya begitu terasa. Cahayanya menembus tirai tipis yang bergoyang pelan ditiup angin. Daddy memanggil saya dan adik kembar saya ke kamarnya. Tak seperti biasa, ia memanggil kami dengan nama masing-masing, bukan dengan panggilan ‘Mbak’ dan ‘Kakak’ seperti biasanya. Meski begitu, saya tak memikirkan apa-apa. Lagi pula, apa kemungkinan terburuk bagi anak kelas 2 SD di pagi hari seindah itu?

“Daddy dan Bunda sudah tidak cocok lagi, Nak. Kami akan bercerai."

Saat itu, saya belum mengerti jelas apa artinya. Tapi saya tahu, itu bukan pemberitahuan tentang hal yang baik. Masih jelas terngiang di benak saya, mulai dari intonasi pengucapan Daddy, pemilihan kata, sampai perubahan suasana yang mendadak terjadi seusai kalimat itu terucap.

Pemahaman anak kelas 2 SD belum mampu mencerna (apalagi menerima) dengan baik apa yang terjadi saat dua orang dewasa memutuskan untuk bercerai. Sesekali memang terjadi pertengkaran di dalam keluarga kecil kami. Namun saya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang juga terjadi pada orang tua teman-teman saya.

Lantas, mengapa orang tua mereka tidak bercerai sedangkan orang tua saya harus bercerai?

Bagi anak usia 8 tahun, belum pernah terbesit sekalipun bahwa perceraianlah yang dipilih orang tua sebagai solusi dari pertengkaran tersebut. Bahkan jujur, definisi kata “perceraian” saja masih belum dapat saya bayangkan dengan jelas pada saat itu.

Rasa kaget belum sepenuhnya hilang ketika Daddy melanjutkan dengan pertanyaan: “Kamu mau pilih siapa, Daddy atau Bunda?”

Saya betul-betul berharap tidak perlu menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan pula dalam situasi apapun kepada seorang anak. Bagaimana mungkin seorang anak mampu memilih antara dua sosok yang paling dicintainya tanpa sepenuhnya merasa bebas dari rasa bersalah kepada salah satu pihak? Pihak mana pun yang saya pilih, tentunya akan melukai pihak yang lain, baik mereka mengakui dan menunjukkannya atau tidak. Bahkan sebagai seorang anak kecil, saya menyadari ada sesuatu yang sangat salah mengenai keharusan memilih ini.

Setahun sebelumnya, saat masih duduk di kelas 1 SD, saya pernah mendengar peribahasa “bagai makan buah simalakama”. Terdengar lucu di telinga saya kala itu karena tidak terbayang bentuk situasi yang membuat orang dapat merasa sepenuhnya serba salah tanpa dapat menemukan pilihan lain yang lebih baik. Hingga pagi yang cerah itu. Ketika saya berkenalan dengan rasa asing yang satu ini, pada usia yang sangat dini.

Bagaimana perceraian orang tua memengaruhi saya.

Tadinya saya berpikir bahwa perceraian kedua orangtua saya sudah merupakan hal yang cukup sulit. Namun ternyata, berada dalam lingkungan teman-teman yang berasal dari keluarga utuhlah yang kemudian menjadi sebuah tantangan baru.

Mereka yang tidak tahu, seringkali dengan ringan menanyakan mengapa saya tidak pernah diantar Daddy lagi ke sekolah, atau mengapa saat pembagian rapor hanya Bunda saja yang datang sendirian. Saat itu saya terkadang merasa tidak dimengerti, sedih, dan marah. Saya percaya, bukan maksud mereka untuk merundung (bullying). Namun sebagai anak yang keluarganya berbeda dengan mayoritas anak lain, pertanyaan sepolos itu saja sudah cukup membuat saya terganggu.

Secara naluriah, saya sudah cukup peka bahwa pandangan masyarakat mengenai individu, keluarga, atau kelompok yang berbeda dengan kaum kebanyakan, biasanya dianggap ‘ada yang salah’ padanya. Dan saya tidak suka dianggap begitu. Baru belakangan saya menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan yang terasa mengganggu saat itu hanya sekadar bentuk ketidaktahuan, bukan bermaksud mengejek apalagi melukai perasaan. Barangkali saya pun akan menanyakan hal serupa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perceraian menimbulkan banyak perubahan. Mulai dari sesederhana jumlah kepala yang ada di meja makan saat makan malam bersama, sampai ke hal-hal yang lebih kompleks dan melibatkan banyak pihak, misalnya pengaturan ‘giliran’ silaturahmi saat Lebaran dengan masing-masing keluarga dari kedua belah pihak orang tua. Tahun-tahun awal memang berat. Perubahan seringkali identik dengan awal yang tidak nyaman, dan memang itulah yang persis saya rasakan.

Namun ada suatu masa dimana saya mencoba mengalihkan pikiran. Saya yang awalnya fokus pada ‘apa saja yang berubah’, berusaha memindahkan fokus pada ‘apa saja yang tidak berubah’ setelah perceraian orang tua. Toh, setelah dipikirkan, masih banyak hal lain yang tersisa dan sama sekali tidak berubah meskipun telah terjadi perceraian.

Misalnya, semua bentuk ikatan antara saya dan masing-masing orang tua tetap sama, Saya masih dapat menyayangi dan mendapatkan kasih sayang dari keduanya selayaknya saat masih menjadi keluarga yang utuh, dan saya tidak kehilangan salah satu orang tua hanya karena tinggal di bawah atap yang berbeda.

Daya lenting dan bola bekel

Jika ingin disebutkan satu persatu mengenai kerugian yang harus mewarnai masa kecil saya akibat perceraian orang tua, mungkin akan sangat panjang daftarnya. Silakan bayangkan sebanyak-banyaknya kemungkinan yang dialami anak usia 8 atau 9 tahun saat orang tuanya bercerai, mungkin saya pernah mengalami lebih dari separuhnya. Namun yang perlu saya syukuri adalah bahwa saya memiliki keluarga yang suportif.

Suportif yang dimaksud bukan berarti menuruti keinginan apalagi memanjakan.

Meski sedang mengalami situasi yang berat, saya tidak pernah diperlakukan sebagai ‘korban’ atau diberikan perhatian lebih hanya karena berlandaskan rasa kasihan. Tidak ada toleransi yang mengizinkan saya melakukan hal-hal (yang saya tahu) bisa saja saya lakukan dan menjadikan peristiwa berat yang telah saya alami itu sebagai pembenaran. Yang namanya kesalahan, tetap mendapatkan konsekuensi sebagaimana mestinya.

Bunda mengajarkan bahwa apapun cobaan yang terjadi, bumi tidak akan berhenti berputar dan waktu tidak akan berhenti berlari hanya sekadar untuk menunggumu selesai bersedih. Maka tidak ada cara lain selain menjadi pribadi yang kuat.

Tidak banyak pesan moral yang ia ucapkan untuk menyinari kembali pribadi anak-anaknya yang sempat redup kala itu.

Alih-alih memberi nasehat, Bunda mengajarkan cara untuk menjadi pribadi yang kuat melalui perbuatan dan contoh. Ada analogi sederhana, yang baru saya temukan saat dewasa, namun langsung terlihat cocok sekali untuk mendeskripsikan ajaran Bunda Yaitu analogi bola bekel.

Semakin tinggi ia dijatuhkan dan semakin keras membentur tanah, maka akan semakin tinggi pula ia melambung kemudian. Kualitas bola bekel tidak berasal dari penampilannya. Toh tidak ada yang istimewa dari bentuknya yang sederhana bahkan terkadang tanpa disertai warna yang menarik.

Namun kualitas bola bekel dilihat dari seberapa kuat ia mampu melambung kembali setelah dijatuhkan ke permukaan yang keras.

Perceraian orang tua memang berat, namun saya baik-baik saja.

Mungkin dulu saya malu apabila orang tahu mengenai latar belakang keluarga saya dengan orang tua yang bercerai. Mudah sekali menemukan sederet efek buruk yang mungkin dapat terjadi pada anak dari keluarga dengan orang tua bercerai, hanya dengan mengetik kata kunci ‘dampak perceraian’ di search engine.

Merinding membayangkan bahwa hal tersebut berasal dari penelitian dengan menggunakan teori dan metode yang valid, mulai dari kasus penurunan kemampuan akademik, gangguan perilaku, penyalahgunaan obat terlarang, sampai bunuh diri. Mungkin memang hanya segelintir anak yang mengalami hal tersebut.

Namun setiap anak dari keluarga bercerai memiliki potensi untuk ‘tergabung’ dalam segelintir kelompok itu.

Dan saya menolak menjadikan peristiwa perceraian orang tua melemahkan diri saya, apalagi pembenaran untuk melakukan hal yang salah. Saya sudah menjalaninya dan saya bisa.

Perjalanan sekolah saya baik-baik saja. Kuliah Psikologi di Universitas Indonesia dapat saya selesaikan dalam waktu 7 semester. Saya langsung melanjutkan ke jenjang S2 Psikologi Anak Usia Dini di universitas yang sama dalam waktu 4 semester dengan predikat cum laude sebelum genap 25 tahun. Saat ini saya sedang merintis dan mengelola PAUD bernama Sekolah Bunga Matahari yang sudah menjadi impian saya sejak kecil.

Saya bahagia dalam dunia kecil yang saya jalani ini. Ternyata perceraian orang tua, tidak menghambat jalan saya untuk berfungsi sebagai individu yang normal layaknya orang lain dari keluarga utuh.

Dengan semakin bertambahnya usia dan semakin mengakarnya ilmu serta ajaran untuk menjadi pribadi yang kuat, saat ini saya sama sekali tidak merasa bahwa menjadi anak dari keluarga bercerai sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan. Karena bagi saya, sumber kekuatan tidak seharusnya menjadi sebuah hal yang malu untuk diungkapkan, kan?

Perceraian memang tidak menyenangkan, dan memang tidak dianjurkan. Tapi jika itu satu-satunya emergency exit bagi dua orang dewasa yang menikah, maka perceraian hanyalah sebuah fase kehidupan yang harus dilewati. Perceraian ialah fase buat orang tua saya, namun cinta saya kepada mereka dan sebaliknya tetaplah utuh seperti sedia kali.

Bunda saya benar.

Hidup tak menunggu kita berhenti bersedih, tapi selalu siap memberikan kebahagiaan saat kita ikut bergerak bersamanya. Tak masalah apakah kita awalnya bergerak pelan, merangkak, berjalan hingga kemudian ikut berlari riang bersama hari-hari kehidupan.

Ya, saya anak dari orang tua yang bercerai 21 tahun lalu dan kini saya baik-baik saja.

**) ditulis untuk #HariKeluarga pada tanggal 29 Mei.*