“I believe that life is easier when we have less baggage to carry on”. @novikresna, Luang Prabang - 2014

Dari Penang Hingga Luang Prabang, Tentang Membuat Semuanya Jadi Mudah dan Sederhana

Saya percaya, hidup akan lebih mudah jika kita hanya memiliki sedikit barang bawaan, karena tidak banyak yang kita khawatirkan bagaimana harus membawanya bersama berbagai rencana yang kita punya.

Pada bulan Oktober 2014 saya melakukan perjalanan dari Penang hingga Luang Prabang dengan hanya menggunakan satu backpack seberat tujuh kilogram dan satu tas tenteng untuk laptop agar tetap bisa bekerja selama di perjalanan, buku, telepon genggam, dompet dan paspor.

Di dalam tas tersebut hanya muat untuk baju selama tujuh hari dan saya akan mencucinya lagi, mix and match dari apa yang saya punya untuk hampir dua bulan lamanya.

Tentunya langkah saya jadi lebih ringan, karena saya hanya membawa 1 backpack, tidak perlu geret-geret koper yang berat. Saya bisa melompat dari kereta yang membawa saya ke perjalanan 22 jam dari Penang menuju Bangkok, hingga slow boat selama 2 hari dari Chiang Mai menuju Luang Prabang.

Penang – Luang Prabang

Selama perjalanan ini, dan tahun-tahun yang saya lewati sebelumnya, mengingatkan saya pada saat-saat saya justru merasa kaya ketika saya punya sedikit. Mempunyai sesuatu yang sedikit justru membebaskan saya untuk tidak terlalu banyak berpikir, mengkhawatirkan sesuatu, membebani saya dengan masalah.

Ketika saya melihat lagi ke belakang kebanyakan disebabkan karena kita terlalu punya banyak tanggungan, printilan yang sesungguhnya bisa kita tinggalkan.

Singkatnya, berikut sedikit banyak pelajaran yang saya dapatkan selama perjalanan tersebut yang sedikit banyak juga mempengaruhi saya di tahun-tahun berikutnya :

1. Less is more, dengan mempunyai sedikit justru memudahkan kita mempunyai lebih banyak pengalaman.

Dengan hanya membawa satu backpack, saya belajar untuk bisa berbahagia dengan apapun yang saya punya, sekaligus memaksimalkan dari apa yang kita punyai. Karena sebenarnya kita tidak butuh banyak dalam hidup, kadang-kadang kita yang membuatnya jadi rumit dengan menambah banyak elemen baru yang tidak perlu.

Karena kita punya sedikit, kita merasa tidak banyak yang perlu kita “selamatkan”. Di situlah justru kita jadi lebih kaya karena mengalami lebih banyak, mengambil lebih banyak kesempatan dan pengalaman. Dan inilah saat yang sesungguhnya kita menjadi “Kaya”.

2. Decluttering The Mind, Being Less Attached to Things

Saat kembali ke rumah di Jakarta, suatu hari saya menemukan diri saya menatap isi lemari dan sekelilingnya, sebuah momen di mana yang membuat saya tersadar bahwa yang membuat langkah kita berat dan susah mengambil keputusan dalam hidup adalah karena kita punya terlalu banyak attachment.

Jika kita kembali menatap baju-baju di lemari dan buku-buku yang tidak pernah lagi saya sentuh, sesungguhnya mana yang benar-benar kita pakai dan baca? Kapan terakhir kali memakainya? Kapan terakhir membacanya, atau selama ini cuma jadi hiasan di lemari? Adakah hal signifikan yang akan terjadi jika kita memutuskan untuk mendonasikannya? Adakah memiliki barang-barang yang sesungguhnya tidak terlalu penting ini di rumah justru memberatkan langkah kita?

Tidak ada dampak yang signifikan dalam hidup saya ketika kembali ke rumah dan menemukan barang-barang lama masih tersimpan di tempatnya, menyimpannya atau membuangnya tidak ada pengaruh yang berarti. Dalam kondisi yang seperti ini, membuang atau menyalurkannya ke yang lebih membutuhkan mungkin justru akan lebih berfungsi.

3. Nothing is Permanent

Jakarta – Penang – Bangkok – Chiang Mai – Luang Prabang – Chiang Mai – Bangkok – Singapore – Jakarta

Berpindah-pindah dari sebuah tujuan ke tujuan lainnya dalam sebuah perjalanan mengajarkan saya bahwa tidak ada sesuatu yang permanen dalam hidup kita, sehingga yang bisa kita lakukan adalah menikmati sepenuhnya setiap momen yang ada.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa bahkan pemandangan yang kita lihat pun terus berganti, teman perjalanan datang dan pergi, setiap hari hidup selalu memberi kita kesempatan untuk belajar hal baru, lalu mengapa kita harus mengenggam sesuatu terlalu erat jika dengan membiarkan semuanya secara natural berganti justru membuat kita lebih kaya dengan pengalaman baru?

4. Mengerti Hal Yang Paling Esensial, Hal Yang Paling Penting Yang Kita Butuhkan

Dimulai dari menyiapkan baju dan hal-hal paling mendasar yang kita butuhkan sehari-hari selama perjalanan, yang mana saya harus mengepaknya ke dalam tujuh kilogram saja, apa yang kemudian saya temukan?

Ternyata untuk perjalanan ini tidaklah banyak, selain yang memang bisa muat dalam sebuah backpack untuk perjalanan hampir dua bulan. Lalu jika kita melihat dalam gambaran yang lebih besar dari perjalanan kehidupan kita, mari kita bertanya lagi ke dalam diri sendiri, apa yang sesungguhnya benar-benar kita butuhkan? Dan mengapa kita berusaha sangat keras untuk meraih semuanya? Jika hanya dengan mempunyai sedikit justru membuat kita mengalami lebih banyak seperti halnya dua bulan perjalanan dari Penang hingga Luang Prabang ini?

5. We Invest Ourselves in Good Times With Good People That Changed Us

Selama perjalanan ini yang paling berperan dalam membentuk diri saya adalah orang-orang yang saya temui, Di Luang Prabang, saya berkenalan dengan Felippe dan Vincent dari Kanada yang melakukan hitch-hiking dari Asia Tengah hingga Asia Tenggara, mengajarkan saya tentang kesederhanaan berpikir yang perlu kita bawa dan terapkan selama perjalanan. Karena jika kita tidak melatih diri kita untuk berpikir sederhana, bagaimana kita mampu untuk melangkah jauh?

Dari mereka saya belajar bahwa perjalanan panjang selama 6 bulan dari Asia Tengah menuju Asia Tenggara membutuhkan keberanian untuk melepaskan hal-hal yang membebani kita, semakin ringan pikiran kita, semakin kita mampu jauh melangkah. Secara umum inilah yang saya ambil pelajaran dalam hidup : jika ingin melangkah jauh, sering-seringlah melepaskan beban yang tidak perlu.

Tanpa diduga pula justru keajaiban-keajaiban kecil mengiringi saya sepanjang perjalanan, terutama beragam teman baru yang memperkaya saya dengan banyak pengetahuan dan pelajaran baru, dari teman perjalanan mahasiswa yang sedang mengambil kesempatan selama libur semester, hingga tiga nenek dari Belgia. Saya percaya, kekayaan batin yang kita dapatkan dari berbagi pengalaman dengan berbagai teman perjalanan seperti ini tidak bisa digantikan dengan nilai sebuah barang yang kita beli.

6. Self Discovery is an Everyday Task: Kita belajar banyak tentang diri kita sendiri, setiap hari

Jika kita melihat lagi ke dalam diri kita sendiri lebih detail setiap harinya, terutama saat kita melakukan perjalanan, kita akan banyak menemukan hal baru yang justru membuat kita terkejut. Dari seminggu pertama selama perjalanan di Penang, karena berkenalan orang baru hampir setiap harinya, saya terkejut betapa saya banyak belajar hal baru setiap harinya dari mereka.

Dimulai dari mendengarkan cerita hidup mereka, belajar bahasa baru, menemukan cerita-cerita sejarah dari perspektif yang sama sekali berbeda, hingga menantang diri sendiri untuk melawan rasa asing dan ketakutan yang sering menyapa kita ketika menginjakkan kaki di tempat baru. Kegiatan sederhana seperti ini selalu membawa saya ke berbagai serendipitious experiences, karena setiap teman baru yang memberikan makna adalah pintu yang membuka kita ke dalam penemuan diri yang baru.

7. Dengan mempunyai sedikit, langkah lebih ringan. Apa hasilnya? Lebih berani mengambil keputusan.

Karena kita mempunyai sedikit, kita selalu berangkat dengan ekspetasi yang minim pula. Jadi, jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana juga tidak mengapa, kita akan mudah beradaptasi dengan rencana lainnya. Itulah yang saya temukan selama perjalanan saya dari Penang ke Luang Prabang.

Eksperimen perjalanan ini membawa perubahan dalam hidup saya terutama dalam cara saya mengambil keputusan. Jika saya sedang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, saya berusaha untuk kembali melihat diri saya ketika hanya memiliki sedikit barang bawaan seperti halnya dalam perjalanan ini, untuk selalu belajar menjadi minimalis, memahami hal-hal yang paling esensial yang kita butuhkan, karena sesungguhnya kita selalu punya pilihan untuk membuat hidup jadi lebih sederhana.

Inilah sedikit yang bisa saya bagi, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca refleksi diri dari pelajaran yang saya alami.

Note : Contoh rute perjalanan bisa dilihat di *sini**, karena website inilah yang banyak membantu saya dalam membuat itinerary.*