Dear mother-in-law, Don’t teach me how to handle my children. I am living with one of yours and He needs a lot of improvement. (sumber: Instagram @mommiesdailydotcom)
Suatu pagi, saat asyik berselancar di Instagram, saya menemukan sebuah foto berisi kutipan seperti di atas. Saya tersenyum dalam hati. Ingat dengan suami, mama mertua, dan teman-teman yang seringkali mengeluh soal mama mertuanya.
Bohong kalau saya nggak pernah mengeluh soal mama mertua. Meskipun saya nggak mengucapkannya, namun bukan berarti saya selalu sepakat dengan semua nasihat beliau. Pasti, mama mertua saya juga punya keluhan-keluhan soal saya. Pasti.
Sama seperti Ibu sendiri, mama mertua hanya ingin saya menjadi istri dan Ibu yang baik. Dan tentunya, sifat controlling hampir ada di semua ibu bukan? Jadi, sama seperti ibu kandung, mama mertua juga punya kecenderungan untuk membombardir kita dengan semua nasihat soal cara hidup yang dianggap paling benar.
Bedanya? Dengan Ibu kandung kita bisa protes atau nrimo. “Biasalah, Si Mama…,” begitulah kita saat memilih untuk nrimo semua nasihat Ibu. Kalau saya, sih, lebih sering protesnya daripada nrimo.
Namun dengan mama mertua, biasanya kita hanya bisa nrimo. Takut untuk protes.
Namun, perlahan saya menyayangi mama mertua saya--semoga beliau juga begitu. Ada beberapa alasan kenapa saya begitu menyayangi mama mertua saya, seorang wanita keibuan yang membesarkan suami saya.
Pertama, beliau jago masak! Keluarga besar suami saya pengusaha catering terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nenek dari suami saya adalah salah satu quality controller semua masakan dan layanan catering-nya. Beliau terkenal cerewet dan disiplin di kalangan pegawai catering. Dan satu yang pasti, MASAKANNYA ENAK!
Ini semua menurun ke mama mertua. Beliau adalah juru masak yang andal. Setiap kali menginap di rumahnya, beliau memasak tumis tahu-tauge, makanan kesukaan saya. Beliau juga sering membelikan roti kesukaan saya, sepulang kerja. Hanya dalam waktu sehari semalam, berat badan saya naik satu kilogram--terima kasih, Mama!
Kedua, beliau selalu ada. Beliau selalu pasang badan saat dibutuhkan. Beliau ada di saat saya melahirkan. Meskipun saya bilang kepada Ibu dan mama mertua untuk datang pada saat bayi sudah lahir, namun beliau sudah duduk manis di ruang tunggu pada saat saya mengejan yang kesekian kalinya. Dan, saat bayi sudah lahir, beliau menghampiri saya dan si bayi sambil berkata, “Hidungnya perisis kamu, Mel...” katanya dengan mata berkaca-kaca. Ah, Mama, aku jadi ikut terharu!
Di keyakinan yang saya imani, perkara nomor satu seorang laki-laki adalah Ibunya. Bukan Istrinya. Sekarang, saya memahami hal itu.
Mama mertua—dan tentunya papa mertua—telah membesarkan seorang pria pengasih dan penuh tanggung-jawab. Saya percaya, Mama mertua adalah orang yang bijaksana sehingga saya nggak perlu takut dan cemburu saat suami saya mengutamakan ibunya.
Ketiga, beliau punya sifat-sifat yang mirip seperti saya. Cara kami berbicara sama-sama cepat. Cara kami berargumen dengan pasangan, sama. Emosi kami meletup-letup. Jika senang, sangat terlihat. Jika marah, juga terlihat. Kami juga sama-sama penggemar buku dan isu agama.
Yang berbeda, beliau jauh lebih supel dan percaya diri dibandingkan saya. Nah, kalau ini persis dengan Ibu saya. Jadi, saya punya dua orang Ibu yang senang bergaul, juga percaya diri. Sifat ini pun sangat dominan di putri saya, Btari Nay.
Keempat, nasihat beliau soal noto ati. Artinya, menata hati.
Suatu hari beliau bercerita, bahwa pernikahan mengubah sifatnya. Mama mertua mengaku bahwa sebeum menikah, beliau adalah orang yang keras. Hmm, mungkin seperti gue, ya? Begitu batin saya dalam hati. Namun, pernikahan membuat beliau harus belajar noto ati.
Soal noto ati ini, mengingatkan saya pada pertanyaan Ibu, “Kenapa, sih, pasangan muda seumurmu banyak sekali yang cerai? Di zamanku nggak ada yang kayak gitu, lho.” Kalimatnya lebih mirip dengan protes daripada bertanya.
Pertanyaan Ibu senada dengan komentar Dewi Motik yang beredar di media sosial. Kurang lebih, ia mengomentari perempuan zaman sekarang yang 'sombong'. Sedikit-sedikit minta cerai. Mentang-mentang sudah bisa cari uang sendiri.
Nah, noto ati ala mama mertua sebetulnya selaras dengan perceraian yang kerap terjadi di era moderen ini. “Seorang perempuan harus bisa noto ati, Mel. Kalau nggak bisa noto ati, wis mbuh (nggak tahu, deh). Buyar kali rumah tangganya," ujar beliau.
Mengenal mama mertua selama sepuluh tahun--lima tahun pacaran dan lima tahun menikah dengan anaknya--saya tahu bahwa mama mertua sudah menjadi jagoannya noto ati. Beliau nggak pernah terdengar protes soal papa mertua. Beliau mencintai papa mertua—begitupun sebaliknya—dengan sangat tulus. Itu semua terlihat dari pengabdiannya selama bertahun-tahun, menerima semua kelebihan dan kekurangan suaminya dengan ikhlas. Begitu pula papa mertua.
“Namanya juga Papa…,” beliau seringkali bersenda gurau begitu kepada saya dan suami. Dari senda guraunya, beliau tampak menikmati rumah tangganya. Beliau juga tahu persis cara menangani konflik harian yang muncul. Dan noto ati, berujung pada keluarga harmonis.
Sebetulnya, jika ditanya apa kekurangan pasangan kita? Pasti banyak sekali jawabannya. Atau mungkin, mendadak curhat tak habis-habis? Ilmu noto ati yang dipraktikan oleh mama mertua selama bertahun-tahun, mengajak kita untuk nggak berfokus pada kekurangan-kekurangan yang ada, melainkan pada kenikmatan yang muncul, sekecil apapun.
Saya pikir, ini yang jarang muncul di perkawinan moderen. Di mana pernikahan hanya dianggap sekadar institusi halal untuk melakukan hubungan seks. Nggak jarang, ketika ada teman-teman yang menikah ucapan yang keluar adalah, “Wah, udah halal sekarang, ya!”
Kalau hanya mencari halal-haram dari sebuah hubungan, percayalah, hubungan kita akan sangat primitif karena hanya mengandalkan seks. Seks yang halal. Atau mungkin, seks yang tadinya haram dan dihalalkan lewat institusi pernikahan?
Karena pernikahan hanya di-drive oleh seks, kita lupa soal mencintai, menyayangi, dan menerima pasangan dengan tulus, ikhlas. Lupa bahwa setiap momen pernikahan hendaknya disyukuri. Dan lupa bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah mencari rasa aman dan tentram.
Begitu konflik muncul dan seks tidak terakomodasi dengan baik, hati tidak ditanggapi dengan manis, kita cenderung mencari orang ketiga untuk melampiaskan nafsu dan sayang. Ujung dari ini semua adalah perceraian, bukan?
Ada tiga hal yang saya coba untuk jalankan dari ilmu noto ati ala mama mertua. Pertama adalah manage your expectation. Ekspektasi yang terlampau tinggi akan membuat kita bekerja lebih keras—kadang bahkan nggak masuk akal. Atau, jatuh dengan lebih sakit jika tidak tercapai.
Itu yang kemudian menjadi alasan perkawinan muda yang berakhir dengan talak. Meskipun ada pula alasan lainnya, namun nggak bisa dipungkiri bahwa alasan yang sering kali muncul adalah selingkuh. Dan, jika ditanya kenapa selingkuh? Jawabannya, karena dirinya (perasaan, fisik, kebutuhan, dan lain sebagainya) tidak terakomodasi dengan baik di dalam institusi pernikahan yang dimilikinya.
Kita harus cek kembali ekspektasi kita kepada pasangan. Jika pasangan kita bukan orang yang romantis, jangan mengharapkan momen romantis di hari jadi pernikahan. Jika pasangan kita bukan orang yang peka—seperti suami saya—lebih baik bersikap straightforward daripada berharap dia bisa membaca isi kepala kita.
Kedua—ini khusus untuk orang-orang emosional seperti saya—jangan reaktif. Jika pasangan melakukan atau mengatakan hal-hal yang nggak kita sukai, lebih baik kita menarik diri sebentar daripada bereaksi negatif secara berlebihan. Jangan sampai kita terpicu melakukan hal-hal buruk yang akan kita sesali di kemudian hari. Reaksi negatif yang berlebihan akan memakan energi yang besar. Energi yang besar akan membuat emosi yang meledak-ledak, dan itu semua nggak akan pernah menyelesaikan masalah, Teman.
Sekarang, saya sedang belajar untuk memilih cara saya bereaksi. Saya memilih untuk lebih kalem. Memproses semua informasi di dalam kepala, baru memberi hati giliran untuk memilih reaksinya. Jika saya terus mengandalkan hati dalam memproses informasi, saya percaya suami saya akan memilih jalan selingkuh.
Terakhir, bertanyalah kepada diri sendiri, "Siapa yang memilih suami/istri seperti itu?"
Setiap kali suami saya melakukan hal-hal yang saya tidak suka, berulang-ulang, saya kerap kali bertanya pada diri sendiri. "Yang pilih dia siapa?" Biasanya akan diakhiri oleh senyum kecut pada diri sendiri, sih. Namun, setidaknya saya bertanggung jawab dengan pilihan saya.
Jadi, jangan protes.
***
Akhir kata, saya tahu banget noto ati itu nggak mudah untuk dijalani. Lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan ego. Namun, jika niatnya adalah untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan dan menciptakan keluarga yang bahagia, sepertinya ilmu noto ati layak untuk dicoba.
Because, everybody gotta learn some time. Change your heart, look around you. Change your heart, it will astound you. So Beck said in his song.