Iya, saya dulu sampai takut nonton acara ibadah agama lain di TV walaupun secara tidak sengaja. Ada semacam kepercayaan (yang ditanamkan ke saya), bahwa saya bisa jadi auto-murtad ketika pikiran saya mendengar nama Tuhan dalam agama yang berbeda.

Energy flow follows imagination.

Kata-kata ini diucapkan seorang teman beberapa tahun lalu. Saat itu kami tengah berbincang mengenai situasi sosial di sekitar kami. Waktu itu kami gelisah dan prihatin. Di satu sisi, para pemeluk agama nampak 'semakin religius', sementara di sisi lain semakin menjauh dari yang namanya kemanusiaan.

Saat itu kami berkesimpulan, yang mendorong fenomena tersebut adalah ketakutan. Agama yang diajarkan secara dogmatis banyak menakut-nakuti pemeluknya. Membuat umat dihantui ketakutan; dan bertindak serta berperilaku semata-mata berdasarkan rasa takutnya tersebut.

Sekarang saya sudah menjadi seorang ibu. Melihat situasi sekarang membuat saya risau dan gelisah. Perasaan ini timbul terutama memperhatikan obrolan para orang tua (terutama kaum ibu), mengamati postingan yang di-share di media sosial maupun group chat. Ingatan kembali melayang pada obrolan beberapa tahun silam. Rasa-rasanya sekarang ini semua berita yang saya dapatkan hanya menyebarkan ketakutan. Dari ketakutan dan paranoia lalu menjelma menjadi kebencian.

Kita semakin mudah benci terhadap hal-hal yang ditakuti.

Ternyata kegelisahan saya waktu itu masih sangat relevan dengan situasi yang saya hadapi sekarang. Saya bertanya-tanya, mengapa setelah beberapa tahun tidak ada perubahan? Kenapa malah jadi semakin mengkhawatirkakan?

Saya gelisah membaca broadcast message dan status-status yang menyebarkan ketakutan. Saya gelisah dan sebal melihat reaksi para ahli. Bukannya mengeluarkan statement yang bikin adem, sebaliknya malah membuat orang menjadi paranoid. Saya heran melihat ahli pendidikan, keluarga, dan psikologi anak yang di setiap seminarnya malah menakut-nakuti orang tua. Saya capek membaca bagaimana beberapa ahli agama menjual ketakutan dengan berbagai ancaman. Saya ingin marah ketika melihat seorang balita yang masih polos ditakut-takuti dengan sosok Tuhan yang bengis, kejam, Maha Penyiksa, dan Maha Penghukum dengan ancaman dosa dan neraka.

Ya, saya dulu pernah juga dihantui ketakutan-ketakutan seperti itu.

Waktu itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak-anak, pertanyaan kritis saya selalu dimentahkan dengan dogma (pokoknya) hingga ancaman ('ngeyel itu sifatnya kaum anu, padahal kaum anu adalah kafir dan musuh agamamu!').

Alhasil, lama-lama saya menelan saja berbagai pertanyaan "kritis" saya dan memendamnya sendiri. Saya lebih takut dicap kafir daripada bertanya lebih jauh mengenai hal-hal yang ada di kepala saya. Saya sampai takut mempunyai rasa ingin tahu. Saya takut untuk belajar mengerti. Saya takut untuk belajar memahami.

Lulus kuliah, saya menjalin hubungan dengan pria yang berbeda keyakinan. Setahun pertama, salah satu motivasi saya berpacaran dengannya adalah untuk "menyelamatkan domba tersesat" dan mengajaknya masuk ke dalam kaum 'terselamatkan'. Apalagi ibunya waktu itu sangat mendukung karena keinginan yang sama.

Begitulah, akhirnya saya terbakar semangat. Pembicaraan dan kencan-kencan kami banyak berisi debat antar agama. Sebenarnya yang melatarbelakangi saya semangat berdebat adalah nafsu pribadi untuk membuktikan bahwa keyakinan pacar saya salah dan agama saya yang paling benar. Saya membeli buku-buku debat agama dan melahap berbagai artikel dan informasi perihal interfaith dialogue.

Makin ke sini, perdebatan berubah menjadi dialog.

Jika awal-awalnya yang mengemuka adalah ego--keinginan untuk membuktikan diri benar dan pihak pacar yang salah, lambat-laun tumbuh keinginan dalam diri saya untuk lebih memahami. Iya, saya mulai berubah. Entah apa yang memicu perubahan ini. Mungkin buku-buku yang saya baca lebih banyak mengenai sufisme/tasawwuf sehingga mempengaruhi jalan berpikir saya. Atau pertemuan dan obrolan dengan banyak individu yang "berbeda" yang membuat pikiran saya semakin terbuka dengan perbedaan.

Dulu saya takut terhadap perbedaan. Bahkan, ada masanya ketika saya takut terhadap simbol. Ancaman dan dogma yang ditanamkan sedari kecil, membuat saya takut menjadi auto-murtad jika nonton acara ibadah agama lain di TV (walaupun tidak sengaja) dan jika terlintas dalam pikiran saya mengenai keyakinan orang lain yang berbeda. Menyedihkan memang, sampai sebegitunya saya takut terhadap keyakinan yang berbeda.

Setelah pikiran saya dibukakan dan mencoba lebih memahami, ternyata bergaul akrab dengan orang yang berbeda (dalam segala hal, bukan hanya dalam hal keyakinan) sama sekali tidak menakutkan. Bergaul dengan berbagai individu yang berbeda juga membuat pikiran saya lebih terbuka; sekaligus menantang diri sendiri. Saya jadi tahu batas-batas diri sendiri; tahu kapan untuk tidak melewatinya, seraya tidak menghakimi.

Saya bukannya tidak pernah mengalami disonansi kognitif yang membuat tidak nyaman. Tidak nyaman antara takut dengan ide-ide (dogma) lama, takut dosa, dan hal-hal baru bahwa ternyata Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, cinta-Nya sangat luas, tak berbatas, dan tak bersyarat.

Tetapi saya memilih.

Saya memilih untuk percaya bahwa Tuhan saya adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Saya meyakini bahwa ada yang lebih penting daripada sekadar 'baju' agama yang kita kenakan, yaitu Kemanusiaan. Sejak saat itu, segala ketakutan saya terhadap hal-hal yang berbeda, juga rasa takut saya terhadap simbol, sirna. Kemudian hidup menjadi lebih mudah.

Rasanya menjadi lebih nyaman ketika bergaul dengan mereka yang berbeda.

Segala kebencian yang muncul hanya karena melihat orang lain sebagai seseorang yang "berbeda" menjadi hal absurd bagi saya; tetapi sekaligus dapat saya pahami karena saya pernah mengalaminya sendiri. Akar kebencian tersebut sesungguhnya adalah rasa takut.

Ketika takut terhadap hal-hal yang kita bayangkan (peran pemuka agama dan orang tua dalam menyuburkan imajinasi tersebut cukup besar, saya akui), dibangunlah benteng perlindungan bernama kebencian. Kita mungkin menganggap, dengan membangun kebencian maka dapat melindungi diri sendiri, termasuk melindungi keyakinan kita.

Padahal andai kita tahu, "what you resist, persist". Semakin keras kita berusaha melawan, menyangkal dan menghilangkan rasa takut, imajinasi tersebut malah semakin nyata dan mewujud. Energy flow follows imagination.

Sekarang setelah menjadi orang tua, hal inilah yang menjadi visi saya. Saya ingin putri saya kelak tumbuh sebagai individu yang dapat menghargai perbedaan dan dapat menemukan keindahan dalam perbedaan tersebut.

Tantangannya adalah bagaimana melawan ketakutan terhadap perbedaan dengan cinta.

Hidup mengajarkan saya, bahwa lawan dari rasa takut adalah cinta. Tetapi melihat perkembangan sekarang, ada rasa pesimis terselip dalam hati saya. Apakah betul Cinta dapat melawan kampanye kebencian yang semakin meluas di berbagai kalangan? Mengapa manusia sepertinya lebih mudah menerima rasa takut yang disebarkan daripada rasa Cinta?Mengapa pesan-pesan yang berbasis ketakutan begitu mudah beredar luas sedangkan pesan-pesan Cinta malah dianggap menyimpang dan abnormal? Apa yang hendak dibangun oleh parenting dan gaya pengasuhan berbasis ketakutan? Apa yang hendak diajarkan orang tua yang dihantui paranoia kepada anak-anaknya?

Begitu sulitkah menerima bahwa Tuhan sesungguhnya Maha Pengasih dan Penyayang, daripada Maha Menghukum dan Maha Membenci?

Saat ini, mungkin saya dianggap anomali dan abnormal oleh sebagian yang lain. Saya tidak setuju jika anak-anak sejak dini diperkenalkan konsep Tuhan yang abstrak lewat dosa dan neraka. Saya lebih suka mengajak Anya mengenal Tuhan lewat ciptaan-Nya seperti awan yang berarak, ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, tikus, kucing, serangga, warna-warni bunga, perdu dan sebagainya. Saya ingin Anya dapat mencintai setiap makhluk ciptaan Tuhan, merawat dan mengasihi mereka sebanyak yang ia bisa.

Seorang teman menentramkan saya. Ia bilang, cara saya mendidik Anya bukan berarti saya menomorduakan agama dalam mendidik anaknya. Menurutnya, mendidik karakter, perilaku dan sifat yang baik juga merupakan bagian dari ajaran agama.

Saya tak ingin macam-macam. Saya hanya ingin Anya kelak bisa tumbuh di dunia yang lebih baik. Semua makhluk hidup bisa berbahagia dan damai berdampingan tanpa harus menghilangkan keberagaman. Masing-masing dapat menemukan keindahan dalam perbedaan yang beragam.

Saya sadar, bahwa Anya adalah milik masa depan. Saya hanya ada di sini membantunya tumbuh dan berkembang. Beruntung saya mendapat pasangan sevisi. Dalam perjalanan, saya juga merasa lega karena bisa bertemu lebih banyak orang dengan pemahaman yang sama. Saya merasa tidak terlalu sendirian. Saya tahu jalan masih sangat panjang untuk saya, terlebih lagi bagi Anya.

Tapi saya percaya untuk mengisi jalan panjang itu dengan rasa cinta. Sepenuh yang saya bisa. Saya harap, Anya juga.