Tiga tahun lalu, di Bali, saya mengikuti sebuah konferensi. Di konferensi itu, saya berkenalan dengan Dave Logan. Saat itu, ia menjadi pembicara dalam salah satu sesi mengenai menemukan passion dan tujuan hidup kita. Judul talk-nya adalah Unleashing Your Dark Side. Melepaskan sisi gelap.

Mobilmu Jelek!

Saya tak ingat kelas berapa tepatnya. Namun, ada satu momen di masa Sekolah Dasar ketika saya meminta agar bisa pergi sekolah naik jemputan saja. Orang tua saya tak berkeberatan. Sepertinya mereka melihat hal ini sebagai sebuah pernyataan kemandirian. Bahwa saya sudah cukup besar sehingga tak perlu lagi diantar sekolah oleh Ayah. Bahwa saya akan bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman dan 'bersosialisasi'--karena di rumah, saya seorang anak tunggal.

Satu hal yang tidak mereka ketahui adalah bahwa bukan itu alasannya. Mereka tidak tahu, bahwa suatu hari, ketika saya turun dari mobil pick-up merah Ayah di lapangan parkir sekolah, seorang anak lelaki yang tidak saya kenal mengacungkan jarinya menuding saya, dan berkata, "Kamu miskin! Mobil kamu jelek!" Lalu ia menjulurkan lidahnya kepada saya, dan berlari menuju gerbang sekolah.

Saya terkejut karena hostility yang begitu tiba-tiba itu.

Anak itu, tentunya, melompat turun dari sebuah mobil sedan mengilat. Berbeda sekali dari mobil pick-up merah kami yang memang penuh dempul dan gores karena sering dipakai mengangkut dan mengantar kulkas, AC, dan barang-barang elektronik lain yang direparasi di bengkel Ayah saya. Saya memang bersekolah di sebuah sekolah swasta yang kebanyakan muridnya berasal dari kalangan berada. Di lapangan parkir itu, anak-anak lain turun dari mobil sedan, van, atau, paling tidak, jip yang mulus.

Saya yang masih kecil, saat itu mengerti tentang rasa malu--atau dipermalukan, karena berbeda. Karena tak memiliki apa yang dimiliki kebanyakan anak-anak lain. Saya juga mengerti rasa sedih karena merasa dinilai secara tidak fair dan diperlakukan dengan tidak semestinya.

Tetapi, pada kesempatan yang pendek itu, pertama-tama saya marah kepada anak lelaki itu. Lalu dalam hati marah kepada Ayah, karena ia tidak punya mobil yang 'lebih bagus'. Lalu saya hanya marah saja--entah kepada siapa. Tetapi, menjelang usai sekolah, saya tak lagi marah. Yang tertinggal hanya rasa sedih. Saya tidak mengerti mengapa anak yang bahkan tidak saya kenal itu bisa melontarkan kata-kata yang sedemikian menyakitkan. Saya malu.

The Blindness of Fitting In.

Mungkin dari sana, saya yang masih kecil pun belajar--bahwa jika saya ingin bertahan, I have to fit in. Bahwa saya lebih baik naik jemputan daripada naik mobil Ayah. Bahwa saya harus jeli berusaha agar diri saya tidak terlihat atau dianggap 'terlalu berbeda'. Saya perlu mengikuti arus. Karena jika tidak, saya akan seperti Malena (bukan nama sebenarnya).

Malena memang terlihat 'berbeda'. Ini mungkin karena rambutnya yang selalu terlihat sedikit gimbal dan acak-acakan, baju seragamnya yang begitu lusuh dan menguning (tidak putih cemerlang seperti anak-anak lain). Mungkin juga, karena kakinya dipenuhi bekas luka karena gigitan serangga. Atau karena kaos kakinya selalu kumal dan menghilang di balik sepatunya. Saya sendiri tak begitu mengenal Malena, karena tak pernah berbicara atau bermain dengannya. Ia duduk di bangku paling depan di kelas, sementara saya di bangku-bangku paling belakang.

Saya tidak tahu apa aturan mainnya, atau dari mana awalnya, tetapi sepertinya, lewat kesepakatan yang tak perlu dijelaskan, kami semua sepakat bahwa Malena bukanlah sosok yang tepat untuk dijadikan kawan. Karenanya, saya tahu, sepertinya tak ada yang berteman terlalu dekat dengan Malena--namun suatu hari, Malena melakukan suatu kesalahan besar.

Di masa itu, anak-anak berada (the cool kids) berlomba-lomba mengenakan sepatu yang sedang tren. Setelah L.A. Lights dari L.A. Gear, sepatu kets yang menyala-nyala berkedip-kedip ketika solnya diinjak, kali ini tren yang mewabah adalah sepatu semi-boot DocMart(ens). Semua anak keren memakai sepatu ini, dan dengan demikian, status sosial dan kepopuleran seseorang di Sekolah Dasar pada saat itu, dengan mudah bisa dilihat dari alas kakinya.

Saya, tentu saja, termasuk anak-anak yang TIDAK mengikuti tren ini. Harga sepatu itu luar biasa mahal, dan orang tua saya tak akan bersedia menghabiskan uang sebanyak itu untuk sepasang sepatu. Saya selalu punya sepasang sepatu kets hitam tanpa merk jelas, yang dibeli di sebuah toko kecil di Jalan Suryakencana.

Yang tidak Malena ketahui (atau mungkin terlambat ia ketahui), adalah peraturan tak tertulis lain ini: bahwa memakai DocMart palsu adalah dosa yang lebih besar daripada tidak memakai DocMart.

Pagi itu, Malena masuk kelas mengenakan sepasang DocMart. DocMart Malena berbeda dari DocMart anak-anak lain--siapapun bisa melihatnya dengan jelas. Saya tak tahu siapa yang memulainya, tapi tiba-tiba saja semua orang mengejeknya karena mengenakan DocMart palsu. Ejekan itu tak berhenti. Mereka menertawakan Malena karena she was trying too hard.

Malena menangis.

Keesokan harinya, Malena kembali ke sekolah masih dengan DocMart itu. Dan ejekan semakin parah. Entah darimana asalnya, anak-anak menemukan 'permainan' baru. Mereka bilang (dengan raut wajah jijik), Malena mengandung 'virus'. Jadi, jika ada yang menyentuh atau disentuh Malena, ini berarti orang itu telah terkena 'virus' dan akan dijauhi. Ia baru akan 'bebas virus' jika ia 'membuang' virus itu dengan menyentuh orang lain.

Anak-anak 'bandel' pun kemudian dengan sengaja menyentuh Malena cepat-cepat dengan wajah berjengit, lalu mengacungkan tangan mereka yang 'bervirus' dengan mengancam kepada anak-anak lain--yang menjerit-jerit panik dan berlarian menghindar. Tak ada yang mau terkena 'virus'. Kelas kacau-balau.

Meski tidak terlibat aktif mengejek Malena (karena saya juga termasuk anak tanpa DocMart), saya juga ikut berdosa. Seperti anak-anak sekelas, saya pun 'takut' akan dikenai 'virus'. Saya akan selalu menghindar jika ada anak-anak 'nakal' tersenyum iseng dengan tangan diacungkan di depan wajah mereka, berkata: "Hiiiiiiiiiiii. Ini ada 'virusnya'!!!"

Virus Malena dan ejekan-ejekan yang dilontarkan kepadanya terus berlangsung sepanjang tahun. Saya tak tahu seperti apa perasaan Malena saat itu. Sedih dan malu, pastinya. Tetapi saya tak melakukan apa-apa. Bahkan di usia semuda itu, saya memilih untuk diam dan mengikuti arus--ini cara yang saya amati paling aman. Belakangan, gosip bertambah jahat. Anak-anak perempuan bilang, mereka melihat Malena nonton bioskop dan 'pegang-pegangan' dengan 'oom-oom'.

Malena menangis. Lalu untuk beberapa hari tidak masuk sekolah.

Guru kami mulai turun tangan. Suatu siang, ia memarahi seisi kelas. Suaranya bergetar, dan saya pikir ia akan menangis. Tetapi ia tidak menangis. Dengan marah, ia mencoba mencari tahu siapa yang telah menyebarkan gosip jahat tentang Malena itu, tetapi tentu tak ada yang mengaku, dan tak ada yang tahu dengan pasti dari mana berita itu berasal.

Guru kami bilang, Malena kabur dari rumah. Semua orang tengah mencari keberadaannya.

Beberapa hari kemudian, Malena kembali ke sekolah. Ia masih mengenakan 'DocMart'-nya.Guru kami meminta seisi kelas untuk berbaris dan menyalami Malena, minta maaf kepadanya. Seisi kelas menurut. Kami menyalami Malena dan berkata, "Maaf, ya." Malena tersenyum sedikit. Tetapi seingat saya, di sisa tahun itu, meksi tak ada lagi ejekan, gosip jahat, maupun 'virus', Malena tetap tidak punya teman dekat.

Belakangan, ketika saya sudah duduk di bangku SMP, dan semua anak keren mengenakan sepatu Airwalk dan tas selempang Billabong (dan saya tetap masih tidak mengenakan keduanya), saya baru menyadari satu hal. Malena berasal dari keluarga miskin. And she's just trying hard to fit in--bahkan jika hal itu berarti mengenakan DocMart palsu; untuk membuatnya nampak 'serupa'.

Di SMU, sekolah saya mulai melarang anak-anak mengenakan sepatu bermerk mahal. Mereka yang ketahuan 'bandel' akan berkeliaran dengan bertelanjang kaki sepanjang hari, karena sepatu mahal mereka disita oleh Guru Bimbingan & Penyuluhan.

Mengelola Rasa Marah.

Tiga tahun lalu, di Bali, saya mengikuti sebuah konferensi. Di konferensi itu, saya berkenalan dengan Dave Logan. Saat itu, ia menjadi pembicara dalam salah satu sesi mengenai finding your passion. Judul talk-nya adalah Unleashing Your Dark Side--atau melepaskan sisi gelap.

Hari itu, Dave berkata bahwa kebanyakan orang yang sedang mencari passion atau panggilan hidupnya, akan mendapatkan nasihat yang kurang lebih sama: carilah hal-hal yang membuatmu merasa senang melakukannya, yang membuatmu merasa bahagia, atau lupa waktu jika sudah menekuninya. Nasihat ini, seringkali, tidak membantu banyak untuk si penanya, selain membuatnya menjadi lebih bingung lagi.

Maka Dave berkata, "Saya ingin kalian berpikir tentang hal-hal yang akan membuat kalian marah. Sangat marah. Murka! Ada banyak hal yang mungkin membuat kalian marah di dunia ini: kemiskinan, perang, ketidakadilan, penyiksaan terhadap binatang, bullying... tapi akan ada satu hal yang akan bisa membuat kalian sangat murka. Ketika kalian melihat hal ini, kalian merasakan amarah yang luar biasa, emosi yang luar biasa, dan rasanya kalian ingin meledak. Mengapa? Karena hal ini pernah kalian alami dalam hidup kalian. Kalian pernah mengalaminya sendiri. Apakah satu hal itu?"

Dave memberi kami waktu beberapa saat. Secara berkelompok, kami pun saling berbincang mengenai hal-hal yang membuat kami marah: hal-hal yang membuat kami marah karena kami pernah mengalaminya secara langsung dalam kehidupan kami. Saat itulah, saya teringat Malena. Saya juga teringat anak lelaki yang menjulurkan lidahnya kepada saya dan mengatai saya 'miskin'.

And then it hits me.

Saya murka ketika diremehkan.

Saya lahir dari dua garis keturunan: Tionghoa dan Jawa. Keluarga Jawa saya mengatai saya 'Cina', 'Sipit', atau 'MeiMei'--sementara keluarga Tionghoa saya selalu memandang sinis karena saya tak tahu persis apa dan siapa yang dipanggil popo, yeye, apek, dan sebagainya. Saya tahu rasanya diremehkan dan tak pernah bisa merasa fit in--karena saya dianggap berbeda di kedua keluarga.

Ketika orang tua saya sempat bercerai (sebelum menikah kembali beberapa tahun kemudian), kedua keluarga sering berbisik-bisik dan berkata, "Kasihan, anak broken home. Pasti nanti prestasinya menurun." Memang, saat itu belum seperti sekarang. Perceraian sepertinya masih menjadi masalah tabu. Anak 'broken home' kemudian punya stigma tersendiri yang dilekatkan kepada mereka.

Hanya saja, saya terkadang heran, mengapa orang-orang dewasa di kedua keluarga ini bisa bicara seperti itu dengan bebasnya ketika saya ada di depan mereka. Entah bagaimana bisa mereka mengira saya tidak akan mendengar atau mengerti hal-hal nylekit yang mereka katakan, jika mereka jelas-jelas tidak berupaya menutupi komentar-komentar ini dari saya.

Dan komentar-komentar semacam inilah yang membuat saya marah. Membuat saya panas dan geram, dan terkadang begitu marah hingga saya gemetar dan menangis ketika sudah sampai di rumah. Bahkan sebagai anak kecil dan remaja, rasa marah ini sudah membakar diri saya begitu hebat: I have to prove them wrong!

Ada banyak episode 'kemurkaan' lain yang saya alami dalam hidup saya; dan jika saya runut-runut, semuanya berkaitan dengan perasaan diremehkan. Ketika orang tua saya mengalami kesulitan keuangan dan keluarga dekat berpikir bahwa saya tak akan bisa kuliah di universitas yang bagus (tahu dirilah, suruh ambil diploma saja, atau kursus!).

Ketika guru Matematika saya di SMU mengata-ngatai saya bodoh karena saya tak pintar Matematika--dan sepertinya menutup mata bahwa saya memenangkan banyak piala debat dan public speaking Bahasa Inggris untuk sekolah itu.

Atau ketika keluarga saya mengatakan, "Kamu tidak berbakat menjadi penulis." -- ya, dalam situasi-situasi itu, saya ingat merasa demikian marah, demikian murka.

Anak perempuan di dalam diri saya menggugat semua itu. Menolak memercayainya dan berusaha keras membuktikan kepada semua orang bahwa penilaian mereka salah.

Saya murka ketika seseorang mengatakan bahwa saya tidak cukup baik, bahwa saya bodoh, bahwa saya pasti gagal, bahwa saya mesti tahu diri (baca: jangan bermimpi terlalu tinggi) atau bahwa impian saya terlalu muluk. Mungkin, untuk alasan yang sama, saya jadi begitu mudah menangis (sampai sesenggukan) ketika melihat tayangan-tayangan video di YouTube tentang orang-orang yang diremehkan dalam ajang pencarian bakat--lalu membuktikan bahwa mereka luar biasa.

Misalnya, Andrew de Leon yang dianggap 'aneh' karena dandanan goth-nya di American Idol, atau Susan Boyle yang dianggap terlalu tua dan tak akan bisa menyanyi, Paddy & Nico--seorang nenek dan anak muda yang dianggap hanya akan menampilkan tarian membosankan, dan Emma Haslam yang dianggap terlalu 'besar' untuk memeragakan pole dance di Britain's Got Talent.

"Rasa marah itu--itulah fuel-mu. Bahan bakarmu. Hal yang kamu perjuangkan dalam hidupmu, hal yang kamu mengerti benar, karena kamu pernah mengalaminya sendiri. That's your calling," ujar Dave. "Bagaimana kamu bisa menggunakan rasa marah itu untuk menolong orang lain? It's not just about passion. It's passion for a purpose. This is your purpose."

Saya kembali ke rumah setelah konferensi itu dengan perasaan 'ringan'. Tiba-tiba saja saya bisa melihat semua hal yang pernah saya alami sebagai sesuatu yang saling berhubungan, dan memang bukannya tanpa tujuan. Pasti ada alasan mengapa saya pernah melalui semua pengalaman yang memberi saya pelajaran mengenai sedih, malu, dan sakitnya diremehkan; dibedakan; dipemalukan.

Passion for A Purpose.

Lalu, dalam minggu-minggu setelah konferensi itu, saya pun merasa hidup saya punya tujuan. Punya purpose. Dan saya bisa sedikit lebih mengerti panggilan hidup saya. Yang menurut saya sederhana saja.

Saya mungkin bukan orang yang akan mengentaskan kemiskinan di dunia, atau mungkin saya juga bukan orang yang akan keluar dengan ide cemerlang tentang bagaimana mengatasi kelaparan. Saya juga tak tahu cara berkontribusi banyak untuk mendamaikan konflik dan peperangan (walau saya sempat bercita-cita menjadi wartawan perang).

Untuk sementara, saya cuma tahu satu hal ini.

Kalau hidup saya ini punya purpose, semua passion saya ingin saya salurkan untuk yang satu ini:

Saya cuma ingin membantu orang-orang untuk tidak mendengarkan, memercayai atau menyerap kata-kata yang meremehkan, mengecilkan, atau mempermalukan mereka. Saya ingin membantu sebanyak atau sesedikit yang saya bisa, dengan berbagai cara yang saya tahu (menulis, mengajar, mendengarkan)--hanya karena saya tahu rasanya berada di posisi itu. Karena saya tak lagi hanya ingin diam demi mencari aman.

Saya cuma ingin menjadi cheerleader orang-orang--yang akan melompat di sisi mereka dengan senyum lebar dan tepukan di pundak dan berkata, "It's possible! Kamu bisa! You are good enough! Tak apa-apa! You ARE enough. You don't have to fit in. Kamu hebat dan dicintai! It's okay to feel not okay. Mimpimu tidak terlalu tinggi! You can be yourself and be happy with that."

Karena ketika saya masih seorang anak perempuan kecil dan remaja canggung yang mengulangi kata-kata di atas untuk menguatkan diri saya sendiri, sebenarnya saya diam-diam berharap, ada orang lain yang akan mengatakan hal-hal itu kepada saya. Ada seseorang yang akan menepuk pundak saya, tersenyum, dan berkata bahwa ia akan berjalan di sisi saya dan menyoraki saya sampai garis finish. Dan bahkan jika saya tidak mencapai garis finish pun, ia akan berkata bahwa saya tetap luar biasa, karena setidaknya, saya berani mencoba.