Bu, kita bisa bangkit dari depresi pasca melahirkan. Momen ini bukan momen yang harus kita manjakan. Momen ini bukan momen di mana kita meminta pemakluman dari semua orang. Bukan pula sebuah momen untuk disesali. Kita justru harus melawan, Bu. Melawan semua perasaan negatif itu. Dengan rasa syukur.

Saya nggak pernah punya ekspektasi bahwa saya akan mengalami post-partum depression. Maksud saya, nggak pernah terbersit sama sekali soal baby blues atau post partum depression, selama saya hamil. Soalnya, saya dibekali cerita bahwa yang mengalami itu semua hanya perempuan-perempuan yang kurang support. Dan saya, sangat percaya diri bahwa support system saya KUAT!

Namun, saya lupa..., selalu saja ada faktor X.

Selama hamil, saya sangat rajin membaca ini-itu soal kehamilan dan proses melahirkan. Saya baca buku, artikel, blog, dan membuka forum untuk mencari penjelasan soal semua itu.

Hasilnya? Saya berhasil melahirkan dengan minim rasa sakit. Prosesnya pun lancar, tidak memakan waktu lama, dan bahagia. Sayangnya, begitu bayi lahir, semuanya amburadul. Bahagia meninggalkan saya, entah ke mana.

Saya mengenang masa-masa pasca melahirkan sebagai dark era. Saat di mana saya nggak merasa terhubung dengan diri sendiri. Lama loading. Bingung. Lelah. Bosan. Kesepian. Dan, berbagai macam perasaan lain hingga rasa, "Boleh nggak mati sebentar?"

Saya merasa support system saya nggak memahami apa yang saya rasakan. Mereka memberikan tenaga buat saya, tetapi bukan dukungan mental yang saya butuhkan--mungkin karena mereka nggak paham dengan kondisi saya.

Tiap hari, saya bangun dengan perasaan kesepian, tidak bersemangat, apalagi bahagia. Saat itu, saya bahkan nggak mampu memberikan nama pada setiap rasa yang singgah di dalam diri. Yang saya tahu, saya hanya ingin di-shutdown. Kemudian, dinyalakan kembali, dan menjadi bahagia.

Nah!

Di saat-saat itulah, saya mulai merasa kebahagiaan itu penting sekali. Nomor satu! Ini syarat menjalani hidup dengan tentram dan damai.

Saya panggil Si Bahagia ini, namun dia nggak kunjung datang. Saya cari dia ke mana-mana, sampai ke dalam urat nadi sekali pun. Tetapi dia hilang.

Akhirnya, saya kembali bergelut pada keluhan-keluhan soal motherhood. Soal betapa saya nggak bisa menikmati peran sebagai ibu. Soal masalah kesehatan bayi saya. Soal tangisan bayi saya, dan segala macam hal negatif yang membombardir saya, termasuk membenci tampilan diri sendiri pasca melahirkan!

Tetapi, saya keras kepala. Saya ingin berbahagia! Usaha demi usaha terus saya lakukan.

Saya pun menduga bahwa saya terlalu lelah dan butuh recovery dari semua yang saya alami (kurang lebih 15 bulan).

Lelah ini berdampak dari mengurus seorang high-need baby sendirian tanpa dukungan mental. Apalagi, Nay si bayi jadi sangat manja dan menuntut karena pekerjaan saya 'hanya' mengurus dia seharian, tanpa harus mengerjakan pekerjaan lainnya, termasuk pekerjaan rumah tangga.

Dan, oh, begitu banyak orang mengomentari betapa saya memanjakan dia sehingga dia punya masalah dengan behavior-nya!

Jawaban dari rasa lelah itu adalah pengasuh.

Ya, saya butuh seseorang yang membantu saya menemani Nay, si bayi bermain, mengajak si bayi berjalan-jalan naik stroller, dan memasak makanannya. Saya nggak peduli dibilang manja. Pokoknya, saya harus sembuh dari depresi ini dan berbahagia, agar bayi saya bahagia. Terlebih, saya butuh waktu untuk berpikir dan memulihkan jiwa dan raga.

Dan, pengasuh pun datang.

Eh...

Tetapi, bahagianya kok nggak datang-datang, ya? Kok, dia masih saja bersembunyi dari saya?

Saya bingung, dan depresi ringan pun datang kembali. Lagi-lagi saya merasa unmotivated. Nggak punya tujuan hidup. Nggak punya sesuatu yang harus saya kejar setiap hari. Merasa konsisten kebosanan. Mulai nggak doyan makan, dan lagi-lagi sulit tidur.

Saya pun mulai mencari tahu tentang kebahagiaan lewat Internet. Saya baca artikel-artikel psikologi. Kemudian, saya terpana pada sebuah artikel yang berjudul Pursuit of Happiness. Artikel itu menyebutkan bahwa semakin seseorang sibuk mengejar kebahagiaan, dia akan semakin tidak bahagia. Karena, fokusnya pada usaha mengejar kebahagiaan, bukan si bahagia.

Saya merenung...

Sehari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya hingga genap satu minggu. Masih saja sulit menemukan si bahagia. Ke mana, ya, dia?

Di saat-saat bingung mencari kebahagiaan, saya ingat dua orang teman yang tampak selalu bahagia.

Saya pun memberanikan diri untuk menghubungi mereka dan bertanya soal kebahagiaan. Jawabannya adalah rasa syukur. Bersyukur dari dalam hati tentang hal-hal kecil sekali pun. Dan nggak pernah putus asa untuk selalu mendisiplinkan diri dalam bersyukur.

"Kita tahu saat kita mulai nggak happy. Itu bisa karena kita melakukan hal yang nggak kita suka, atau memikirkannya. Disiplin dalam berbahagia adalah disiplin untuk meninggalkan itu semua, secara perlahan. Disiplin untuk bersyukur pada semua kenikmatan hidup yang kita rasakan," perkataan teman saya menggema terus di kepala.

Bersyukur dan disiplin diri.

Beberapa hari kemudian, saya menerima kabar nggak enak dari dokter, tentang kesehatan bayi saya. Kabar nggak enak ini bukan sekadar sakit demam. Melainkan sesuatu yang kemungkinan akan berdampak pada pertumbuhannya.

Saya gagal mendisiplinkan diri. Saya menerima kabar itu pada Jumat malam, dan masih menangis hingga Sabtu siang--padahal hasil tes medis belum keluar.

Tiba-tiba saya ingat kepada teman baik yang juga dosen saya. Beliau pernah menegur saya karena mengeluh soal bayi saya di media sosial. Beliau bilang, "Daripada mengeluh di sana, lebih baik menelepon teman dan bercerita!"

Saya pun menghubungi beliau soal semua ini. Beliau bilang, "Tuhan nggak menciptakan kehidupan untuk anak cantik, tinggi, dan langsing saja. Jangan sampai cengengmu membuat Nay cengeng. Jangan sampai khawatir dan mindermu membuat Nay nggak berani bergaul dan berprestasi," kalimat-kalimat itu sukses menampar jiwa saya.

Selama ini saya selalu sibuk dengan diri sendiri. Dengan depresi yang saya alami. Dengan kekhawatiran saya yang konsisten terhadap kesehatan Nay. Dengan rasa minder yang diam-diam datang tanpa saya sadar, sehubungan dengan kondisi Nay. Dan saya lupa, itu semua nggak menjadi masalah buat Nay. Dia tetap bergembira, kok!

Kenapa saya harus mengeluh kalau dia gembira dan bahagia? Bukankah doa saya agar dia bahagia?

"Jangan berangkat dari apa yang kurang, termasuk ketika memerlakukan diri sendiri. Tetapi berangkatlah dari rasa syukur," kalimat itu terus menggema sampai ke dalam jiwa saya.

Jadi, Bersyukurlah!

Saat depresi melanda, bersyukur adalah hal yang susah dilakukan. Rasanya, ada salam blokade dalam diri yang melarang rasa syukur itu datang.

Pada kasus saya, blokade itu runtuh pelan-pelan karena saya keras kepala untuk mau bahagia.

Meskipun blokade itu belum runtuh benar, tetapi setidaknya saya berharap membuat lubang-lubang kecil untuk mengalirkan kebahagiaan di dalam diri saya. Saya rasa, keras kepala itu menjadi sebuah hal positif untuk mendisiplinkan diri dalam berbahagia.

Setidaknya, saya mulai disiplin menuliskan beberapa hal yang saya syukuri setiap harinya, sekecil apapun itu. Udara segar. Senyum Nay. Pelukan suami saya. Berbincang dengan Ibu. Teh hangat. Makanan lezat. Kesempatan berselonjor sebentar.

Hal-hal atau momen-momen yang membuat saya bahagia itu mulai saya perhatikan dan syukuri satu demi satu. Momen-momen kecil yang biasanya lewat begitu saja karena sudah jadi kebiasaan.

Dan ada juga beberapa hal atau momen besar yang kerap membuat hati saya berbahagia, yang membuat jiwa saya bersyukur: saya menikah dengan pria yang saya sangat cintai--saya bahkan mencintai kekurangannya. Momen bulan madu kami. Lalu proses kehamilan hingga melahirkan Nay.

Dan, kehadiran Nay.